Berita

Kewajiban Qadha Puasa Ramadan: Kapan Wajib Dibayar dan Sanksi Jika Terlambat?

Advertisement

Bagi umat Muslim yang masih memiliki tanggungan utang puasa dari Ramadan tahun sebelumnya, segera tunaikan kewajiban tersebut sebelum bulan suci Ramadan tahun ini kembali tiba. Kementerian Agama (Kemenag) telah memberikan penjelasan rinci mengenai kewajiban membayar utang puasa Ramadan.

Penjelasan Kemenag Mengenai Qadha Puasa

Mengutip dari unggahan akun Instagram resmi Bimas Islam Kemenag (@bimasislam), menunda pelaksanaan qadha puasa hingga datangnya Ramadan berikutnya tanpa adanya udzur (halangan yang dibenarkan syariat) hukumnya adalah haram dan berdosa. Namun, jika penundaan tersebut disebabkan oleh udzur yang terus menghalangi, maka pelakunya tidak berdosa.

Dalam kondisi di mana seseorang mampu mengganti puasa di bulan-bulan sebelum Syakban namun justru sengaja menunda-nunda hingga masuk Ramadan berikutnya, ia dianggap telah melakukan kelalaian atau tafrith. Dalam situasi ini, mayoritas ulama dari Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali mewajibkan dua hal:

  • Mengganti puasa di hari lain.
  • Membayar denda berupa fidyah.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menyebutkan bahwa kewajiban fidyah bagi yang menunda qadha hingga masuk Ramadan berikutnya merupakan fatwa dari para sahabat Nabi, seperti Ibnu Abbas dan Abu Hurairah RA. Beliau meriwayatkan:

“Barangsiapa yang lalai dalam mengqadha puasa Ramadan hingga bertemu Ramadan berikutnya, maka baginya wajib mengqadha disertai membayar fidyah.”

Advertisement

Niat Qadha Puasa Ramadan

Menurut situs resmi Kementerian Agama (Kemenag) RI, kata qadha berasal dari bahasa Arab yang berarti memenuhi atau melaksanakan. Dalam terminologi ilmu fikih, qadha merujuk pada pelaksanaan suatu ibadah di luar waktu yang telah ditentukan oleh syariat Islam. Contohnya adalah qadha puasa Ramadan, yang berarti puasa tersebut dilaksanakan sesudah bulan Ramadan berakhir.

Kegiatan mengganti puasa Ramadan di luar bulan suci Ramadan ini merupakan kewajiban bagi mereka yang meninggalkan puasa wajib di bulan Ramadan. Mazhab Syafi’i mensyaratkan bagi mereka yang melakukan qadha puasa Ramadan untuk membaca niat puasa qadhanya di malam hari. Berikut adalah lafal niat qadha puasa Ramadan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta’âlâ.
Artinya: Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.

Advertisement