Berita7 — Insiden teror bom yang diduga dilakukan oleh pria berinisial MY (34) di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jakarta Selatan, membuat keluarganya kehilangan tempat tinggal sementara dan berdampak langsung pada kelanjutan sekolah anak-anaknya.
Ketua RT setempat, Anton Sianipar, mengatakan anak dan istri pelaku “saat ini sudah tidak tinggal lagi di lingkungan RT 03 RW 04, sudah diungsikan pihak keluarga di rumah orang tua dari pihak perempuan.”
Anton menjelaskan keputusan pengungsian itu diambil untuk menghindari dampak psikologis dan reaksi dari warga sekitar setelah peristiwa tersebut.
Menurut Anton, “Dia setelah kejadian itu anak sama istri diungsikan dan anaknya itu sudah tidak bersekolah lagi di SDN Srengseng Sawah itu, jadi belum didampingi pihak kepolisian atau Komisi Perlindungan Anak.”
Penangkapan dan Motif Pelaku
Polisi menangkap MY tak lama setelah teror bom terungkap, pada Senin (13/7). Dalam pemeriksaan, MY mengaku mengirim ancaman bom ke sekolah karena tersinggung soal biaya seragam sekolah anak yang disampaikan oleh guru.
“Jadi beberapa hari sebelum kejadian, kan nanya dia masalah seragam. Jawabannya ‘Udah, enggak usah beli seragamnya, saya tahu kondisi kamu kan begitu’,” kata Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi, Rabu (15/7).
Polisi telah menetapkan pria berinisial MY (34) sebagai tersangka dalam kasus teror bom tersebut. Dia kini ditahan polisi.
Peristiwa Teror Bom di Sekolah
Teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, terjadi pada Senin (13/7) di hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
Peristiwa itu berawal ketika seorang guru menerima pesan pribadi melalui aplikasi WhatsApp yang menyebutkan akan meledakkan bom di 11 titik.
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.