Pemerintah Kota Semarang hari ini, Selasa (17/2/2026), menggelar tradisi tahunan Dugderan dengan mengusung tema ‘Bersama Dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi’. Acara ini diselenggarakan sebagai penyambutan bulan suci Ramadan di Semarang, Jawa Tengah.
Semangat Kebersamaan Lintas Budaya
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih karena tradisi Dugderan yang merupakan warisan kuno berhasil dilestarikan oleh masyarakat Semarang. Meskipun berakar dari tradisi Muslim sebagai penanda datangnya Ramadan, Dugderan telah menjadi kebanggaan seluruh umat di kota tersebut.
“Dugderan menjadi momentum penting dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan, titik tolak menghantarkan teman-teman yang Muslim untuk mulai berpuasa. Di sisi lain, Dugderan mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat Kota Semarang yang beragam namun tetap rukun dalam menjaga warisan budaya,” ujar Agustina dalam keterangan tertulis, Senin (16/2/2026).
Filosofi Warak Ngendog dan Pelibatan Generasi Muda
Agustina menyoroti simbol Warak Ngendog yang menjadi ikon utama Dugderan. Ia menjelaskan bahwa filosofi warak yang ‘ngendog’ (bertelur) mengandung makna kerukunan, pengendalian diri, dan harapan akan kesejahteraan bersama.
“Yang unik hari ini semua waraknya wajib ngendog, karena kalau waraknya tidak ngendog nanti bisa congkrah kita ya, bisa bertengkar, tidak ada rejeki yang bisa dibagi,” tuturnya.
Inovasi pada Dugderan tahun ini melibatkan anak-anak melalui Pawai Dugder Anak yang diikuti oleh pelajar dan kelompok seni budaya. Agustina menyambut baik pelibatan generasi muda ini sebagai bentuk transfer pengetahuan dan pelestarian tradisi.
“Saya senang tadi ada anak-anak kecil yang mulai ikut menari. Dan ini nanti pertama kali kita akan melepaskan kontingen anak-anak. Pelibatan anak-anak merupakan bentuk transfer pengetahuan dan pelestarian tradisi agar Dugderan tetap hidup dan berkembang di masa depan. Keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan warisan budaya Kota Semarang,” ungkapnya.
Harmoni Lintas Keagamaan
Dugderan tahun ini juga dinilai semakin unik karena berdekatan dengan perayaan lintas keagamaan, seperti Imlek dan masa puasa Pra-Paskah bagi umat Kristen Katolik. Hal ini memperkuat nilai toleransi dan harmoni di tengah masyarakat.
“Dugderan diharapkan pada tahun ini menjadi lebih unik berkaitan dengan Imlek, kemudian masa puasa Pra-Paskah bagi teman-teman Kristen Katolik. Sehingga harmoni akan terjadi lebih erat dan Semarang menjadi semakin damai,” ujarnya.
Agustina optimistis suasana damai dan harmonis yang tercipta melalui tradisi Dugderan akan berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan investasi di Kota Semarang. Ia juga menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada umat Muslim.
“Kami berdua bersama Pak Iswar mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang Muslim,” pungkasnya.
Rangkaian Acara dan Peserta
Dugderan 2026 diikuti oleh ribuan peserta dari 16 kecamatan, organisasi masyarakat, kelompok budaya, pelajar, serta komunitas seni. Rangkaian acara meliputi kirab budaya, penampilan seni tradisional, hingga pemukulan bedug sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi simbol persatuan, toleransi, dan kekayaan budaya Kota Semarang.






