Berita7 — Nduga, Papua Pegunungan – Iptu Motalip Litiloly, Kasat Samapta Polres Nduga, menunjukkan pendekatan unik dalam menjaga keamanan wilayahnya dengan mengedepankan hubungan kekeluargaan. Kedekatannya dengan warga membuat ia akrab disapa ‘Pak Salib’ oleh masyarakat setempat.
Dedikasi Iptu Motalip di Nduga telah berlangsung sejak tahun 2012, bertepatan dengan pembentukan Pospol Kenyam. Selama masa tugasnya, ia menyaksikan berbagai konflik yang terjadi, termasuk perang saudara.
Saat awal bertugas, Iptu Motalip menghadapi tantangan karena bukan merupakan putra daerah. Ia bercerita kepada seorang tokoh masyarakat tentang kesulitan mendekati warga yang cenderung menjaga jarak. “Bapak, saya lihat warga di sini saat lihat kita berseragam, kita berpapasan, kita mau kasih sapa, dia lihat kita dari jarak 2 meter, dia sudah tunduk lalu menghindar dari kita,” ungkap Motalip.
Tokoh masyarakat menjelaskan bahwa masyarakat Nduga masih membawa trauma dari kasus penyanderaan Mapenduma pada tahun 1996. Namun, ia mengapresiasi upaya Motalip yang mulai mendekati masyarakat dengan cara mendatangi rumah-rumah warga.
Motalip kemudian berinisiatif untuk lebih sering berkunjung ke rumah warga dan mengajak mereka minum kopi bersama di pos polisi. “Kita ngopi berang-bareng, kita kasih pemahaman ke mereka bahwa ‘kami di sini bukan kita bikin susah masyarakat, kami datang ke sini untuk bantu masyarakat, kalau ada masalah panggil kami’. Akhirnya dari mulut ke mulut masyarakat mulai berbondong-bondong datang ke pospol,” jelasnya.
Wisen Tabuni, Kepala Kampung Pririmpirim, memberikan kesaksian tentang peran Motalip dalam meredam konflik di Nduga. Ia mengaku pernah menjadi pemimpin perang pada tahun 2017 dan Motalip berhasil menengahi konflik antarwarga yang menggunakan senjata tradisional. “Begitu dia masuk itu langsung dia bilang ‘Hei, itu tidak boleh’, sampai di sini,” tutur Wisen.
Wisen menambahkan bahwa warga kampungnya sangat menghargai sosok Iptu Motalip, bahkan ia rela turun ke gunung-gunung untuk mengunjungi warga di distrik terpencil seperti Yigi dan Mapenduma.
Seorang warga, Iksan Murib, yang juga seorang guru, menyaksikan langsung keberanian Motalip turun ke tengah-tengah konflik saat terjadi perang antarpihak di dekat Polres. “Jujur dalam pikiran saya ‘orang ngapain di tengah-tengah perang’ karena kita ada orang asli Nduga takut,” ujarnya.
Pendeta BPDI Pantekosta, Isak Murib, menyoroti kedekatan Motalip dengan komunitas gereja meskipun berbeda agama. Ia mengungkapkan bahwa warga kerap memanggil Motalip dengan sebutan ‘Salib’. “Kami senang dengan Pak Talib, berapa kali saya lihat dia mau dipindah, tapi saya bilang tidak. Saya bersama dengan teman-teman tujuh denominasi gereja termasuk bapak-bapak dari haji, sama-sama kami tetap pertahankan di Kabupaten Nduga, pindah ke tempat lain? Tidak,” tegasnya.
Isak menambahkan, panggilan ‘Salib’ memiliki makna mendalam bagi mereka, menyamakan Motalip dengan Salib Kristus. “Karena di sini nama Talip itu, kita punya Salib Kristus, sama nama, dari mereka hanya nama tapi dari kami ada artinya,” jelasnya.
Kapolres Nduga AKBP Alredo Agustinus Rumbiak memuji pendekatan Motalip yang efektif. Menurutnya, seluruh masyarakat Nduga mengenal Motalip. “Mereka mengakui ‘Talip orang paling kami segani, ko paling baik, tapi jangan ko sakiti masyarakat e’. Orang di atas gunung sana tahu Talip lho, semua tahu Talip, Talip sudah datang ke sana, melayani sampai sana,” kata Alredo.
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.