Berita7 — Perdana Menteri India Narendra Modi melakukan kunjungan kenegaraan ke Jakarta pada 6–8 Juli 2026 yang memunculkan sejumlah kesepakatan strategis antara Indonesia dan India. Pertemuan bilateral ini menyorot penguatan kerja sama pertahanan sekaligus langkah di bidang ekonomi dan infrastruktur maritim.
Dalam agenda resmi kunjungan, kedua negara sepakat melanjutkan paket kerja sama yang mencakup pengadaan sistem persenjataan serta investasi di sektor mineral kritis dan pengembangan pelabuhan.
Kesepakatan Alutsista
Salah satu poin utama adalah keputusan Indonesia mengimpor rudal udara-ke-udara buatan India, Astra, sebagai bagian modernisasi alutsista. Selain itu, rencana penambahan baterai rudal jelajah supersonik BrahMos juga dimasukkan dalam paket kerja sama yang akan direalisasikan dalam waktu dekat.
Langkah ini diambil setelah pemimpin dan delegasi Indonesia menilai performa sistem persenjataan tersebut pada operasi militer yang menjadi latar percakapan bilateral. Keputusan penambahan kapasitas pertahanan ini diposisikan sebagai bagian dari strategi penangkalan maritim yang diutamakan pemerintah.
Kerja Sama Ekonomi dan Infrastruktur
Selain bidang pertahanan, dua negara menyepakati penguatan rantai pasok mineral kritis. India berencana berinvestasi di sektor manufaktur baja, pengolahan nikel, serta produksi magnet permanen berbasis tanah jarang (rare earth permanent magnets) di Indonesia.
Kerja sama juga mencakup transfer teknologi dan dukungan pengembangan sistem pemungutan suara elektronik (Electronic Voting Machine/EVM) yang disesuaikan dengan karakter pemilu di Indonesia.
Di sektor maritim, kedua negara menyetujui rencana pengembangan bersama Pelabuhan Sabang di Aceh. Pelabuhan tersebut dipandang strategis karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan jalur pelayaran penting di Selat Malaka dan berdekatan dengan proyek pelabuhan di Kepulauan Andaman dan Nicobar.
Implikasi Regional
Delegasi kedua negara menegaskan bahwa integrasi kerja sama di bidang militer, ekonomi, dan infrastruktur dimaksudkan untuk memperkuat kedaulatan dan stabilitas kawasan. Penguatan kemampuan pengawasan koridor laut serta akses logistik menjadi bagian dari pertimbangan strategis dalam perjanjian tersebut.
Lawatan kali ini juga menandai babak baru hubungan bilateral setelah peningkatan status menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif, sekaligus memperkuat posisi kedua negara dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.