Berita7 — Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives tetap berada di atas 4.500 Ringgit Malaysia per ton pada Selasa (7/7/2026), di tengah peningkatan ekspor minyak sawit Malaysia. Penguatan harga terhambat oleh melemahnya permintaan dari India dan potensi kenaikan stok.
Data per kontrak menunjukkan fluktuasi antar bulan di akhir perdagangan 7 Juli 2026, dengan beberapa seri mencatat pelemahan sementara seri lain naik tipis.
Pada penutupan Selasa (7/7/2026), kontrak berjangka CPO untuk Juli 2026 turun 2 Ringgit Malaysia menjadi 4.483 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Agustus 2026 melemah 7 Ringgit menjadi 4.416 Ringgit per ton.
Kontrak September 2026 turun 3 Ringgit menjadi 4.547 Ringgit per ton, sedangkan Oktober 2026 naik 1 Ringgit menjadi 4.573 Ringgit per ton. Kontrak November 2026 melonjak 7 Ringgit menjadi 4.601 Ringgit per ton, dan Desember 2026 meningkat 9 Ringgit menjadi 4.625 Ringgit per ton.
Harga CPO juga tercatat bertahan di atas 4.500 Ringgit pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Penguatan mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak nabati di bursa Dalian, China, dan di Chicago, AS, serta perbaikan permintaan ekspor.
Data perusahaan survei kargo menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia pada 1–5 Juli tumbuh sekitar 10,6%–11,1% dibandingkan periode yang sama pada Juni. Kenaikan ekspor menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga.
Sentimen Negatif
Meski demikian, ruang penguatan harga terbatas karena nilai tukar ringgit Malaysia menguat terhadap dolar AS. Selain itu, impor minyak sawit oleh India turun ke level terendah dalam 14 bulan pada Juni, menurut catatan yang ada.
Penurunan impor India dikaitkan dengan lemahnya permintaan domestik dan menyempitnya selisih harga antara minyak sawit dan minyak nabati pesaing, sehingga daya tarik CPO berkurang.
Di sisi pasokan, perkiraan menunjukkan persediaan minyak sawit Malaysia pada Juni meningkat ke level tertinggi untuk bulan tersebut, seiring produksi yang tumbuh lebih cepat dibanding permintaan.
Pelaku pasar menunggu laporan bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan dirilis pada akhir pekan ini untuk mendapatkan gambaran terbaru mengenai produksi, ekspor, dan stok.
Investor juga menantikan rilis data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) China untuk Juni, yang dipandang sebagai indikator penting bagi prospek permintaan minyak sawit dalam beberapa bulan mendatang.
Ikuti Berita7
