Berita

Gus Fahrur: Polri Harus Tetap Kuat di Bawah Presiden, Hindari Tarik-Menarik Politik

Advertisement

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur menyatakan dukungannya agar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tetap berada di bawah kendali langsung Presiden. Ia menilai penolakan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo terhadap wacana penempatan Polri di bawah kementerian adalah langkah yang tepat demi menjaga independensi institusi tersebut.

Potensi Tarik-Menarik Politik

Gus Fahrur berpandangan bahwa gagasan menempatkan Polri di bawah kementerian bukan sekadar persoalan struktur organisasi, melainkan menyangkut garis komando yang berpotensi membuka celah bagi tarik-menarik kepentingan politik. Menurutnya, hal tersebut dapat menggerus netralitas Polri.

“Kalau rantai komando dibuat berlapis dan diseret ke ruang politik, yang pertama terpukul adalah netralitas. Polri harus tetap kuat sebagai institusi negara, bukan alat kepentingan,” ujar Gus Fahrur kepada wartawan pada Jumat (30/1/2026).

Menghindari ‘Matahari Kembar’

Senada dengan Kapolri, Gus Fahrur juga mengamini adanya potensi munculnya ‘matahari kembar’ jika Polri ditempatkan di bawah kementerian. Ia mengkhawatirkan jika terdapat dua pusat kendali, penegakan hukum akan rentan terhadap bias, proses pengambilan keputusan menjadi lambat, dan akuntabilitas menjadi kabur.

Advertisement

“Kita jangan membangun model yang justru memperpanjang birokrasi dan mengaburkan siapa yang bertanggung jawab. Dalam urusan keamanan, negara butuh satu komando yang tegas dan profesional,” tegasnya.

Fokus pada Pengawasan dan Integritas

Lebih lanjut, Gus Fahrur menyoroti bahwa wacana pembentukan jabatan politik baru di atas Polri berisiko menjadi pintu masuk bagi politisasi institusi penegak hukum. Ia menekankan bahwa jika ada keinginan untuk melakukan reformasi di tubuh Polri, maka fokus seharusnya adalah memperkuat sistem pengawasan.

“Kalau mau evaluasi Polri, perkuat pengawasan, perbaiki kualitas pelayanan, benahi integritas. Bukan menambah jabatan politik yang bisa menggeser orientasi pengabdian menjadi orientasi kekuasaan,” pungkas Gus Fahrur.

Advertisement