Lumajang, Jawa Timur – Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya yang signifikan. Pada Senin, 12 Januari 2026, pukul 22.25 WIB, gunung api yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang ini dilaporkan meluncurkan awan panas guguran sejauh 5 kilometer.
Detail Erupsi dan Dampak
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, mengonfirmasi kejadian tersebut kepada Antara. “Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 22.25 WIB. Erupsi berupa Awan Panas Guguran dengan jarak luncur sekitar 5 km,” ujar Sigit.
Tinggi kolom letusan yang teramati mencapai sekitar 2.000 meter di atas puncak, atau 5.676 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kolom abu tersebut memiliki warna putih hingga kelabu dan teramati bergerak ke arah timur serta tenggara.
Peristiwa erupsi ini terekam dalam seismograf dengan amplitudo maksimum 27 mm dan durasi 696 detik. Saat ini, Gunung Semeru berada dalam status Level III atau Siaga.
Imbauan dan Peringatan
Otoritas gunung api mengeluarkan imbauan penting bagi masyarakat yang berada di sekitar Semeru. Aktivitas dilarang dilakukan di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
Di luar zona tersebut, masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini untuk mengantisipasi potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang diperkirakan dapat mencapai jarak 17 km dari puncak.
Lebih lanjut, Sigit menekankan, “Masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).”
Masyarakat juga diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi bahaya lain seperti guguran lava dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru. Aliran lahar ini terutama berpotensi terjadi di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.






