— Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, menyambut baik pandangan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, mengenai pentingnya penyelenggaraan Pemilu 2029 yang sportif. Menurut Doli, hal tersebut dapat diwujudkan melalui pembenahan sistem pemilu dan penyusunan aturan yang lebih tegas.

“Saya setuju bahwa UU Pemilu itu nanti harus bisa menjamin terjadinya peningkatan kualitas pada sistem Pemilu kita. Sudah saatnya kita serius menyusun UU Pemilu,” kata Doli dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).

Doli menilai bahwa salah satu aspek krusial yang perlu menjadi perhatian adalah penguatan keterwakilan dalam sistem pemilu. Berbagai isu seperti sistem pemilu itu sendiri, ambang batas (threshold), besaran daerah pemilihan (district magnitude), hingga metode konversi suara menjadi kursi legislatif, menurutnya, perlu dikaji lebih mendalam.

“Saya kira ini yang juga dimaksud oleh Pak Surya Paloh perlunya sistem yang mengedepankan sportivitas. Terkait soal ini, kita perlu memastikan adanya aturan yang lebih rinci, tegas, dan konsisten, terhadap menghilangkan praktik moral hazard Pemilu, seperti political transactional, money politics, vote buying, dan sebagainya,” jelasnya lebih lanjut.

Selain itu, Doli juga mendorong adanya evaluasi terhadap kelembagaan penyelenggara pemilu. Ia mengusulkan agar mekanisme rekrutmen penyelenggara pemilu dibuat lebih selektif.

“Masih dalam konteks ini, kita juga perlu merumuskan ulang soal format kelembagaan penyelenggara Pemilu kita, termasuk mekanisme rekruitmen dan pemilihan penyelenggara Pemilu yang lebih selektif, agar KPU, Bawaslu, DKPP atau apapun namanya nanti diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas tinggi, kapasitas keilmuan kepemiluan yang baik, komunikasi yang mumpuni, dan pengalaman yang cukup,” imbuhnya.

Anggota Komisi II DPR ini juga menekankan pentingnya membangun budaya demokrasi yang sehat di tengah masyarakat. Menurutnya, masyarakat harus menilai bahwa pemilu merupakan bagian dari tanggung jawab konstitusional untuk menentukan arah masa depan bangsa, tanpa adanya intimidasi, tekanan, ujaran kebencian, maupun manipulasi.

“Idealnya Pemilu harus dapat melahirkan institusi penyelenggara Pemerintahan yang representatif, berkualitas, bersih, memenuhi ekspektasi dan senantiasa mendapat dukungan publik untuk memajukan bangsa bersama rakyat,” ujarnya.

Sebelumnya, Surya Paloh menanggapi pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu yang masih berlanjut. Ia menyatakan tidak mempermasalahkan model pemilihan atau sistem pemilu mendatang, selama kompetisi tersebut berlangsung secara sportif.

“Nah, di sinilah saya selalu mengingatkan salah satu hal yang tidak boleh kita anggap biasa-biasa saja, yaitu sportivitas peserta dan penyelenggara pemilu. Jadi, kita siap dengan pertarungan apa pun dalam kompetisi. Namun, apa artinya kompetisi tersebut apabila kita tidak menghargai nilai-nilai sportivitas yang seharusnya berjalan?” tutur Paloh.