Berita7 — Malang – Dinamika hubungan generasi muda, partai politik, dan nasionalisme di era digital menjadi topik hangat dalam diskusi RedTalks bertajuk “Indonesia Punya Kita”. Forum ini mengupas tema ‘Anak Muda dan Partai Politik: Masih Percaya atau Sudah Kehilangan Harapan?’, menghadirkan perspektif akademisi, aktivis, komika, hingga politisi muda yang menyoroti skeptisisme generasi muda terhadap politik modern.
Akademisi Suko Widodo menyoroti pergeseran nilai dalam interaksi masyarakat pasca disrupsi teknologi dan pandemi. Ia menekankan pentingnya partai politik merefleksikan kembali akar perjuangannya dan merangkul masyarakat kelas bawah. “Hari ini banyak orang saling berbincang tapi tidak berkomunikasi. Banyak orang yang bertemu, tapi tidak berjumpa,” ujar Suko Widodo. Ia menambahkan, “PDI dulu terkenal dengan wong cilik, hari ini sudah gede-gede semua. Apa yang disampaikan untuk kembali ke marhaen, saya kira jadi entry point untuk PDIP harus kembali ke jalan yang benar.”
Budayawan Dwi Cahyono mengakui adanya skeptisisme dan jarak antara anak muda dengan partai politik, terutama di wilayah Malang Raya yang memiliki ratusan ribu mahasiswa. Ia melihat potensi besar yang belum terwadahi dalam sistem politik formal. “Apakah orang-orang muda tidak memiliki kepedulian terhadap politik? Sangat peduli. Hanya saja, apakah kemudian memilih memperjuangkan kepedulian politiknya melalui partai politik atau tidak, sampai saat ini belum,” jelas Dwi Cahyono. Ia menganggap sikap skeptis generasi muda adalah bentuk evaluasi yang wajar. “Skeptis sebagai sikap ini dibutuhkan karena dengan mengambil jarak maka ada evaluasi, termasuk evaluasi terhadap partai politik,” kuncinya.
Ketua PMII Cabang Kota Malang Benny Miftahul Arifin melihat perlunya edukasi dan akomodasi ruang yang lebih riil dari partai politik hingga ke tingkat terbawah. “Arah ke depannya, teman-teman ini untuk mau join ke partai itu harus mikir-mikir dua kali dan banyak sekali. Jadi lebih banyak tiarap dan fokus ke individual aja,” kata Benny. Ia menekankan bahwa ruang diskusi seperti RedTalks harus menjangkau masyarakat bawah. “Kalau bisa jangan hanya di sini, kalau bisa sampai ke akar-akar bawah, karena masalah itu ada di bawah, tidak ada di atas,” tegasnya.
Dari sisi komunikasi dan media sosial, komika Dewangga menggarisbawahi pentingnya pendekatan visual dan branding yang tepat. “Perannya anak muda sekarang itu di sosmed. Kita harus jago-jago ngebranding supaya orang tuh mau ngelihat kita apa,” papar Dewangga. Ia mencontohkan bagaimana humor dan kata kunci sederhana di media sosial bisa merekat kuat dalam ingatan publik. “Partai politik harus melek dengan branding, dan yang laku di sosial media untuk masa yang sekarang dan masa yang akan datang harus dimengerti juga,” lanjutnya.
Senada, aktivis GMNI M Alif Firdaus menegaskan bahwa cara penyampaian yang ringan dan relevan lebih efektif menarik perhatian anak muda dibanding agenda politik formal lima tahunan. “Ketika yang disampaikan hanya lelucon, itu malah lebih teringat kepada anak muda. Peran anak muda di zaman sekarang maupun di media sosial itu sangat sentral, entah kita membuat video terkait nanti kita ke depan mau apa, branding kita seperti apa, itu pasti akan dilihat,” ungkapnya.
Komika senior Abdel Achrian memberikan catatan kritis mengenai pengemasan pesan partai politik agar tidak terkesan kaku. “Packaging-nya di zaman sekarang penting. Begitu masuk anak muda ke partai politik, kosakatanya udah mulai berganti bukan kosakata anak muda lagi, kosakatanya kosakata birokrat banget,” tutur Abdel dengan nada humoris namun tajam.
Pengamat politik Rocky Gerung menekankan bahwa pertarungan politik bagi anak muda harus dilandasi argumen dan ideologi kuat, bukan sekadar sentimen. “Kalau Anda cuma memproduksi rasa iri atau jengkel, itu artinya Anda cuma memproduksi sentimen. Yang kita perlukan adalah argumen,” tegas Rocky Gerung. Ia mendorong generasi muda untuk berani menantang gagasan partai politik dengan pemikiran intelektual. “Mari kita bertengkar dengan argumen dan dengan arah ideologis. Hanya dengan itu negeri ini bisa dihasilkan kembali. Silakan pacaran, tapi jangan lupa berpikir,” pesannya.
RedTalks 2026 mengusung tema “Indonesia Punya Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi”. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat untuk bertukar gagasan, kritik, dan otokritik konstruktif. Penyelenggara ingin menegaskan bahwa masa depan Indonesia adalah tanggung jawab seluruh generasi, dengan anak muda sebagai penggerak perubahan.
Acara akan membahas dua topik utama: “Anak Muda dan Partai Politik: Masih Percaya atau Sudah Kehilangan Harapan?” yang mengulas skeptisisme generasi muda terhadap partai politik, serta “Mandiri atau Menyerah? Jalan Anak Muda Membangun Masa Depan di Tengah Ketidakpastian” yang membahas kewirausahaan, ekonomi kreatif, dan peran negara dalam membuka peluang.
Talk show interaktif ini akan menghadirkan narasumber seperti Rocky Gerung, Dwi Cahyono, Qintharra Ulya Yassifa, Dr. Silvi Asna Prestianawati, Dr. Suko Widodo, komika Abdel Achrian dan Dewangga, serta perwakilan generasi muda seperti Kafitan Aidil Fitra Sukirman, Aryo Bimo Soebagio, Mochamad Alif Firdaus, dan Benny Miftahul Arifin. Acara akan digelar pada Sabtu, 25 Juli 2026, pukul 10.00-13.00 WIB, di Auditorium Malang Creative Center (MCC).
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.