Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI memberikan dukungan penuh terhadap partisipasi aktif sineas Indonesia dalam International Film Festival Rotterdam (IFFR) ke-55 yang digelar di Rotterdam, Belanda, pada 2026. Festival ini merupakan salah satu panggung terkemuka bagi sinema independen dan inovatif dari seluruh dunia.
Film Indonesia Unjuk Gigi di Panggung Global
Pada IFFR edisi ke-55, Indonesia menampilkan dua film pendek, lima film panjang, dan satu proyek yang mengikuti program pitching. Keikutsertaan ini tidak hanya berhenti pada penayangan karya, tetapi juga merambah ke program lab mentor dan producers lab yang diselenggarakan oleh Rotterdam Film Lab.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyatakan kebanggaannya atas kehadiran film Indonesia di festival bergengsi tersebut. Ia menilai hal ini sebagai cerminan peningkatan kualitas, keberagaman narasi, dan daya saing sineas nasional di kancah internasional.
“Kita mendorong agar semakin banyak karya sineas Indonesia hadir di panggung global. Ke depan kita berharap agar IFFR dapat memberikan ruang bagi ‘Indonesia Focus’ atau ‘Indonesia Spotlight’ sebagai platform strategis untuk memperdalam pemahaman lintas budaya serta memperkuat hubungan kebudayaan Indonesia-Belanda melalui sinema,” ujar Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya, Minggu (1/2/2026).
Perkuat Kerja Sama Ko-produksi dan Manajemen Talenta
Fadli Zon melihat potensi besar dalam pengembangan kerja sama ko-produksi film antara Indonesia dan Belanda. Hal ini dapat difasilitasi melalui berbagai program Kemenbud, termasuk Manajemen Talenta Nasional. Platform ini dirancang untuk memberikan dukungan komprehensif bagi talenta budaya Indonesia, mulai dari pengembangan kapasitas, jejaring, hingga akses ke platform internasional.
Indonesia juga mengapresiasi kerja sama ko-kreatif melalui SAMASAMA Lab, yang melibatkan Netherlands Film Fund (NFF), Manajemen Talenta Nasional, dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI). Kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong pengembangan film, pertukaran talenta, dan ekosistem film kreatif lintas negara.
“Selain itu, kerjasama antarnegara dalam bidang perfilman juga terjalin dengan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Jakarta Film Week (JFW),” ungkapnya.
Perjanjian Ko-produksi Audiovisual Indonesia-Belanda
Perjanjian Ko-produksi Audiovisual antara Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda telah ditandatangani pada 4 Desember 2024 oleh Kemenbud RI dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Kerajaan Belanda. Perjanjian ini diharapkan menjadi kerangka penting untuk memperluas kerja sama, mendorong pertumbuhan industri budaya, serta memperkuat pertukaran ekonomi budaya.
“Pemerintah Indonesia menyambut baik perjanjian tersebut sebagai kerangka penting untuk memperluas kerja sama ko-produksi audiovisual, mendorong pertumbuhan industri budaya, serta memperkuat pertukaran ekonomi budaya,” tegas Fadli Zon.
Pertemuan dengan Direktur IFFR
Di sela-sela festival, Fadli Zon bertemu dengan Direktur IFFR, Ms. Vanja Kaludjerčić. Dalam pertemuan tersebut, Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas peran strategis IFFR sebagai platform global bagi sinema independen. Ia juga menegaskan keselarasan antara visi kuratorial IFFR dengan sinema Indonesia kontemporer yang berani mengeksplorasi keragaman budaya dan isu-isu sosial.
“Indonesia kembali menyampaikan minat untuk menghadirkan Indonesian Spotlight atau Indonesian Focus di IFFR 2026, sekaligus membuka peluang kolaborasi sebagai bagian dari penguatan pertukaran budaya dan kerja sama industri film yang berjangka panjang,” jelasnya.
Pengembangan Film Sejarah dan Diplomasi Budaya
Lebih lanjut, Indonesia dan Belanda berencana memperluas kerja sama dalam pengembangan film sejarah. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi sarana diplomasi budaya yang memperkuat hubungan kedua negara dengan mengangkat narasi sejarah secara kritis, kontekstual, dan berperspektif masa depan.
Fadli Zon menambahkan, melalui kolaborasi kreatif antara sineas, peneliti, arsip, dan institusi budaya kedua negara, film sejarah dapat berkontribusi dalam memperdalam pemahaman publik serta mempererat ikatan sejarah yang telah terjalin kuat antara Indonesia dan Belanda.
“Melalui partisipasi di IFFR ke-55, Kementerian Kebudayaan berharap agar film Indonesia tidak hanya menjadi sarana diplomasi global yang menyuarakan narasi-narasi bermuatan budaya dan tradisi Indonesia, namun juga penggerak ekonomi budaya dan industri budaya. Pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung sineas Indonesia agar semakin aktif, berdaya saing, dan berlaga di panggung perfilman dunia,” tutupnya.






