— Malang – Sistem pendidikan nasional dinilai perlu melakukan reorientasi mendasar dengan menempatkan empati sebagai pilar utama dalam mencetak generasi muda. Kegagalan sistem dalam mengakomodasi kebutuhan nyata anak muda kerap berawal dari tiadanya empati dari para pembuat keputusan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) Silvi Asna Prestianawati dalam forum dialog Red Talks 2026 yang berlangsung di Malang Creative Center (MCC), Sabtu (25/7/2026). Acara ini diselenggarakan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur bersama detikcom.

Silvi, yang memiliki kepakaran di bidang ekonomi kelembagaan, secara terbuka menyoroti lemahnya empati dalam pembentukan sistem dan kebijakan ekonomi saat ini. Menurutnya, kegagalan sistem dalam mengakomodasi kebutuhan nyata anak muda kerap berawal dari tiadanya empati dari para pembuat keputusan.

“Siapapun yang ada di ruangan ini, yang pertama kali harus dilakukan adalah menumbuhkan empati. Dengan adanya empati ini, sebuah sistem akan dibentuk tanpa alasan-alasan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu,” ujar Silvi di hadapan ratusan peserta forum.

Silvi menilai perbaikan pola pikir harus dimulai sejak dari bangku pendidikan. Tanpa fondasi empati yang kuat, generasi muda rentan terjebak dalam arus konsumerisme yang agresif. Ia juga menyinggung data Bank Indonesia yang mencatat tingginya volume transaksi fasilitas pembayaran di Indonesia yang didominasi oleh pemenuhan gaya hidup melalui platform digital seperti TikTok.

Situasi tersebut kian berat ketika disandingkan dengan realitas ekonomi Gen Z dan milenial saat ini. Menanggapi tantangan global dan domestik tersebut, Silvi mendorong reformasi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademis semata, tetapi juga membangun karakter yang peka terhadap kondisi sosial sekitar.

Ia bahkan mendorong para mahasiswanya untuk menimba ilmu dan mencari pengalaman internasional seluas-luasnya, namun tetap membawa misi kepedulian bagi tanah air. “Sangat penting untuk mengubah sistem pendidikan dengan mengedepankan empati terlebih dahulu. Meskipun saya dosen ekonomi kelembagaan, saya selalu mengarahkan anak-anak saya untuk, kalau bisa, ke luar negeri cari ilmu dan cari uang,” terangnya.

“Tapi setelah kenyang, kembali ke Indonesia. Apapun yang kamu bisa lakukan, sumbangkan untuk bagian terkecil,” sambungnya.

Dalam forum yang sama, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Malang Raya Aryo Bimo Soebagio sempat menyuarakan getirnya ketimpangan antara pendapatan dan biaya hidup, termasuk sulitnya meraih kebutuhan primer seperti hunian. “Di sini ada anak muda yang nyambi kerja gajinya di atas Rp 10 juta? Mayoritas tidak sampai segitu! Bahkan ada yang isi dompetnya kosong? Ada! Kita dihadapkan pada realitas gaji yang jauh dari cukup, sementara harga barang dan gaya hidup terus ditekan tinggi,” kata Aryo.

Red Talks 2026 menghadirkan jajaran pembicara lintas disiplin, mulai dari akademisi, pengamat politik, aktivis mahasiswa, hingga tokoh pemuda dan komika. Sesi pertama dialog mengusung topik “Anak Muda dan Partai Politik: Masih Percaya atau Sudah Kehilangan Harapan?”. Dalam topik ini, para pemateri membedah menguatnya sikap skeptis anak muda terhadap institusi politik, tantangan regenerasi kepemimpinan, serta peran parpol sebagai wadah melahirkan gagasan baru.

Sesi tersebut menghadirkan pengamat politik Rocky Gerung, pakar komunikasi Universitas Airlangga Dr. Suko Widodo, sejarawan Universitas Negeri Malang Drs. Dwi Cahyono, komika Abdel Achrian, serta Wakil DPD PDI Perjuangan Jatim Qintharra Ulya Yassifa. Sesi kedua mengupas isu ekonomi dan masa depan anak muda melalui topik “Mandiri atau Menyerah? Jalan Anak Muda Membangun Masa Depan di Tengah Ketidakpastian”.

Diskusi dalam forum ini menghadirkan Akademisi FEB Universitas Brawijaya Dr. Silvi Asna Prestianawati, perwakilan BEM Malang Raya Aryo Bimo Soebagio, Ketua PMII Kota Malang Benny Miftahul Arifin, aktivis BEM UB Kafitan Aidil Fitra, serta komika Dewangga.