Bekasi Utara – Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengalami momen menegangkan saat melakukan penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Teluk Pucung, Bekasi Utara. Dalam sebuah video yang viral di media sosial, seorang pria berkaus merah terlihat mengejar Tri Adhianto sambil membawa senjata tajam jenis golok. Insiden ini sontak menimbulkan kehebohan di tengah keramaian penertiban yang melibatkan aparat TNI dan Polri.
Respons Wali Kota
Menanggapi kejadian tersebut, Tri Adhianto menyatakan pemahamannya terhadap respons emosional warga yang terdampak penertiban. Ia menekankan pentingnya penegakan aturan yang dilakukan secara persuasif. “Saya memahami beragam respons masyarakat atas kejadian di lapangan. Namun perlu saya tegaskan, penegakan aturan harus dilakukan secara persuasif, Itulah mengapa aparat hadir untuk menjaga stabilitas, bukan untuk bertindak represif,” ujar Tri melalui akun Instagramnya, @mastriadhianto, pada Selasa (10/2/2026).
Tri menjelaskan bahwa penertiban tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang telah dilakukan. Ia juga menyoroti pentingnya peran aktif dan kesadaran warga dalam menjaga ketertiban kota. “Karena saat ini yang kita khawatirkan jika masyarakat sering langgar aturan ini akan jadi kebiasaan, lama-lama jadi pembiaran, akhirnya para pelanggar merasa dirinya paling benar,” tuturnya.
Meskipun mengalami ancaman, Tri Adhianto mengaku telah memaafkan pedagang yang membawa golok tersebut. “Sebelum dia mengucapkan maaf juga sudah saya maafkan,” katanya.
Pendekatan Persuasif
Wali Kota Bekasi itu menambahkan bahwa petugas di lapangan harus senantiasa bersikap tenang dalam menghadapi dinamika yang terjadi, tanpa merespons secara represif. Ia mengaku sudah terbiasa menghadapi berbagai situasi saat pemerintah mengambil kebijakan. “Karena kan menghadapi situasional harus dengan tenang ya dan kita kan juga sebagai aparatur tidak represif ya karena kan itu warga kita ya, saudara kita, yang perlu kita elus, kita sadarkan, bahwa ada satu proses yang tidak baik,” jelasnya.
Tri menekankan perlunya optimalisasi dalam sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat sebelum melakukan penindakan. Ia juga memastikan bahwa insiden ancaman senjata tajam tersebut tidak akan dilaporkan ke pihak kepolisian. “Apa pun ceritanya, program pemerintah tak akan pernah selesai, tidak akan pernah berhasil kalau masyarakat tidak ikut serta,” pungkasnya.






