Berita

Densus 88 Ungkap 6 Ciri Anak Terpapar Ideologi Kekerasan Ekstrem, Termasuk Simbol Pelaku

Advertisement

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengidentifikasi setidaknya 70 anak di Indonesia terpapar ideologi kekerasan ekstrem. Juru Bicara Densus 88 Polri, Kombes Mayndra Eka, mengungkapkan enam ciri perilaku yang cenderung dimiliki oleh anak-anak yang terpapar paham tersebut.

Ciri-ciri Anak Terpapar Paham Kekerasan Ekstrem

Menurut Mayndra, salah satu ciri utama adalah kecenderungan anak menyukai simbol atau nama pelaku tindakan kekerasan pada barang pribadi mereka. “Ini bisa jadi menjadi tokoh idola atau sosok yang ingin diikuti perilakunya,” ujar Mayndra dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (7/1/2025).

Selanjutnya, anak yang terpapar paham ini cenderung menarik diri dari pergaulan, lebih suka menyendiri, dan menghabiskan waktu mengakses komunitas penyuka konten kekerasan, seperti True Crime Community (TCC).

“Suka menirukan tokoh atau idola. Nah ini sudah terbukti, kita memiliki insiden–pernah terjadi insiden di SMAN 72 dan ABH yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, dari postingannya, dari gaya berpakaiannya,” jelasnya.

Ciri lain yang teridentifikasi adalah anak menyukai konten kekerasan yang tidak normal dan berlebihan di ponsel mereka. “Konten yang diakses tidak normal, sehingga kalau orang normal melihat itu pasti tidak tega melihat kejadian-kejadian kekerasan yang sering diunggah di komunitas tersebut,” tutur Mayndra.

Anak-anak ini juga menunjukkan reaksi marah berlebih jika ponsel mereka dilihat orang lain, dengan alasan konten yang diakses adalah privasi. Ciri terakhir yang paling mengkhawatirkan adalah anak membawa senjata api replika hingga pisau yang identik dengan kekerasan ke sekolah, sebagai inspirasi untuk melakukan tindakan serupa. “Kadang dia bawa ke sekolah untuk dibuat inspirasi melakukan kekerasan,” imbuh Mayndra.

Advertisement

Komunitas TCC Tumbuh Masif dan Sporadis

Mayndra juga menyoroti pertumbuhan komunitas True Crime Community (TCC) di grup media sosial yang semakin masif. Komunitas ini aktif menyebarkan paham ekstrem kepada anak-anak dan remaja.

Ia menjelaskan bahwa komunitas ini tidak dibentuk oleh kelompok atau institusi tertentu, melainkan tumbuh secara sporadis seiring perkembangan teknologi digital. “Komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh pendiri organisasi maupun institusi, tetapi dia tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital yang merupakan pertemuan antara minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang transnasional,” terang Mayndra.

Mayndra mengungkapkan bahwa kejadian kekerasan masif secara global turut dipicu oleh paham yang disebarkan melalui komunitas ini. Ia mencontohkan insiden di Rusia, di mana pelaku penusukan di Moskow menuliskan ‘Jakarta Bombing 2025’ pada gagang senjatanya, yang diduga terinspirasi dari insiden bom di SMAN 72 Jakarta.

“Di dalam gagang senjata, pelaku penusukan di Moscow Rusia ini, kita bisa lihat bahwa dia menuliskan ada ‘Jakarta Bombing’ ya di situ. Dituliskan bahwa ‘Jakarta Bombing 2025’,” ungkap Mayndra.

“(Foto itu) diambil oleh yang bersangkutan kemudian di-upload di dalam komunitas in. Nah, diduga ini terinspirasi adanya insiden bom SMAN 72 di Jakarta,” pungkasnya.

Advertisement