— BNPT mengadakan kemah bela negara sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan generasi muda menghadapi ancaman terorisme di era digital. Kegiatan berlangsung di Garut, Jawa Barat, pada 8–10 Juli 2026 dan melibatkan kolaborator lokal Jaga Tunas Indonesia.

Acara ini menargetkan peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa dengan tujuan merespons perubahan pola penyebaran paham radikal yang memanfaatkan media sosial dan permainan daring.

Materi dan Kegiatan

Kemah diikuti oleh 100 pelajar se-Kabupaten Garut. Selama kegiatan, peserta menerima pembekalan tentang wawasan kebangsaan, konsep bela negara, literasi digital, serta keamanan dalam bermedia sosial.

Selain materi, peserta dilibatkan dalam aksi sosial seperti pemeriksaan kesehatan gratis, pembagian sembako, dan penanaman pohon di kawasan daerah aliran sungai.

Pentingnya Literasi Digital

Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan pelajar dan mahasiswa perlu diperkuat kemampuan berpikir kritis dan literasi digital karena kelompok usia tersebut menjadi sasaran potensial penyebaran paham radikal melalui internet.

“Kenapa pesertanya ada dari SMP, SMA dan mahasiswa? Karena di era digital sekarang yang menjadi sasaran rekrutmen jaringan terorisme adalah anak-anak dan pemuda, jadi kita bangun kesiapsiagaan,”

Eddy menyatakan ruang digital menjadi sarana efektif bagi kelompok teroris untuk menjalankan propaganda, rekrutmen, dan penggalangan pendanaan. Ia menambahkan proses rekrutmen kerap dilakukan secara terselubung dan bertahap.

“Ketiga kegiatan ini dilakukan oleh jaringan terorisme di ruang digital, baik sosial media maupun game online,”

Respons Pemerintah Daerah

Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menegaskan peran strategis generasi muda dalam menjaga persatuan bangsa di tengah tantangan di ruang digital. Menurutnya, keberlanjutan NKRI bergantung pada komitmen generasi muda untuk merawat nilai-nilai kebangsaan.

Melalui kemah ini, BNPT mendorong tumbuhnya generasi yang tidak hanya mahir memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap penyebaran paham radikal, intoleransi, dan ekstremisme berbasis kekerasan yang dapat mengarah pada terorisme.