Berita

BMKG Ungkap 5 Siklon Tropis Masuk Indonesia dalam 55 Tahun, Terakhir Picu Bencana Aceh

Advertisement

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lima siklon tropis telah memasuki atau mendekati wilayah Indonesia dalam kurun waktu 55 tahun terakhir. Siklon terakhir, yang diberi nama Senyar, teridentifikasi memicu bencana di Sumatera, khususnya Aceh.

Siklon Tropis di Indonesia

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kejadian bencana akibat siklon tropis di Indonesia, meskipun jarang, kini menjadi lebih memungkinkan. “Bahwa bencana di Sumatera ini sangat jarang, tapi sekarang sudah memungkinkan terjadi di Indonesia, berdasarkan data dari lintasan siklon tropis dalam 55 tahun terakhir, ada lima (siklon) yang mendekati atau memasuki wilayah Indonesia,” ujar Faisal dalam rapat kerja Komisi V DPR bersama mitra kerja di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Ia merinci kelima siklon tersebut, yaitu Vamei pada tahun 2001 di Aceh, Cempaka, Seroja, Dahlia, dan yang terakhir adalah siklon Senyar. “(Pertama), yang terjadi (siklon) Vamei tahun 2001 di Aceh juga, kemudian Cempaka, Seroja, kemudian Dahlia, terakhir adalah, itu ada di selatan Jawa dan terakhir adalah di siklon Senyar ini,” sambungnya.

Dampak Ganda Siklon

Faisal menyoroti bahwa dampak siklon menjadi lebih signifikan ketika ada dua pusat siklon yang terbentuk di belahan bumi yang sama. Fenomena ini dapat saling menguatkan dan meningkatkan potensi kerusakan. “Kita sudah menyampaikan peringatan, dan ketika terjadi dua titik siklon pada belahan bumi yang sama dalam hal ini adalah di belahan bumi utara, ini dampaknya akan cukup signifikan ya, karena dia saling menguatkan untuk dapat memberikan daya rusak yang lebih besar,” jelasnya.

Siklon Senyar dan Dampaknya di Aceh

Berdasarkan analisis lintasan, siklon Senyar bergerak masuk dan memberikan dampak langsung ke wilayah Aceh, terutama di Aceh Tamiang yang menjadi daerah paling terdampak. Perjalanan siklon ini kemudian berlanjut ke pantai timur Sumatera Utara, sebelum bergerak ke Malaysia dan akhirnya punah setelah bergabung dengan siklon Koto di timur.

Advertisement

“Bahwa lintasan siklon Senyar ini juga masuk ke khususnya di daerah Aceh Tamiang, ini merupakan daerah yang paling terdampak, kemudian menyusul pantai timur Sumatera Utara, baru ke arah Malaysia dan bergabung hingga punah bergabung dengan siklon Koto yang ada di bagian timurnya,” papar Faisal.

Ia menambahkan bahwa daerah Aceh mengalami kondisi hujan ekstrem hingga sangat ekstrem selama 2 hingga 3 hari akibat dampak siklon Senyar, lebih parah dibandingkan Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Penguatan Mitigasi BMKG

Menyikapi kejadian ini, BMKG berkomitmen untuk memperkuat langkah mitigasi. Selain mengeluarkan peringatan dini, BMKG juga akan meningkatkan upaya diseminasi informasi kepada masyarakat. “Ini kami coba perkuat setelah belajar dari kondisi dari siklon Senyar ini,” tutur Faisal. “Untuk daerah Aceh memang yang paling banyak mengalami kondisi hujan ekstrem hingga sangat ekstrem bisa 2 sampai 3 hari, dibandingkan Sumatera Utara maupun Sumatera Barat yang lebih rendah, ini juga impak dari siklon Senyar.”

Advertisement