Berita7 — Fenomena Matahari tepat berada di atas Ka’bah kembali terjadi pada 15–17 Juli 2026. Momen ini dimanfaatkan untuk memeriksa ulang arah kiblat secara manual dengan mengamati bayangan benda tegak.
Untuk wilayah Indonesia bagian barat dan barat tengah, BMKG menyatakan puncak fenomena—disebut rashdul kiblat atau istiwa a’zam—terjadi pada 16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA.
Fenomena dan Prinsip Pengamatan
Menurut BMKG, fenomena tersebut terjadi ketika Matahari berada di titik zenit Ka’bah pada lintang 21,422 derajat Lintang Utara. Pada saat itu, bayangan benda yang tegak lurus di wilayah yang masih menerima sinar Matahari akan mengarah tepat ke kiblat.
Fenomena ini berlangsung dua kali setiap tahun dan dapat dipakai sebagai metode sederhana untuk mengecek atau mengukur kembali arah kiblat. Untuk periode Juli 2026, pengamatan disarankan dilakukan pada 15 hingga 17 Juli dengan puncak pada 16 Juli pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA.
BMKG menegaskan metode ini berlaku untuk wilayah Indonesia bagian Barat dan sebagian Indonesia Tengah. Sementara itu, wilayah Indonesia bagian Timur serta sebagian Indonesia Tengah bagian timur menggunakan fenomena Matahari berada di antipoda Ka’bah yang terjadi setiap 14 Januari dan 29 November.
Peralatan dan Syarat Pengamatan
Sebelum kalibrasi arah kiblat, BMKG menyarankan menyiapkan peralatan sederhana agar hasil lebih akurat. Peralatan yang dibutuhkan meliputi:
- Tongkat, tiang, atau benda yang benar-benar tegak lurus.
- Jam yang sudah disesuaikan dengan waktu BMKG.
- Kompas atau GPS bila diperlukan sebagai pembanding.
Pengamatan sebaiknya memenuhi syarat berikut:
- Cuaca cerah dan Matahari tidak tertutup awan.
- Permukaan tempat pengukuran datar.
- Tidak terhalang bayangan benda lain.
Cara Cek Arah Kiblat Secara Manual
Panduan BMKG untuk kalibrasi arah kiblat pada 15–17 Juli 2026 adalah sebagai berikut:
- Sesuaikan waktu dengan jam resmi BMKG melalui situs ntp.bmkg.go.id/Jam.BMKG.
- Letakkan tongkat, tiang, atau benda lain yang tegak lurus pada permukaan datar.
- Mulailah bersiap sekitar lima menit sebelum waktu puncak, yakni pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA.
- Amati bayangan benda tepat saat waktu puncak berlangsung.
- Tarik garis dari ujung bayangan menuju posisi tongkat atau benda tegak tersebut. Garis itulah arah kiblat hasil kalibrasi berdasarkan posisi Matahari tepat di atas Ka’bah.
BMKG mengingatkan proses pengamatan harus dilakukan tepat waktu karena perubahan posisi Matahari berlangsung sangat cepat. Ketepatan waktu menjadi salah satu faktor yang memengaruhi akurasi hasil pengukuran.
Tujuan Kalibrasi
Kalibrasi arah kiblat bertujuan memastikan arah salat tetap sesuai dengan posisi Ka’bah. Seiring waktu, arah kiblat dapat berubah akibat kesalahan pengukuran sebelumnya, renovasi bangunan, atau perubahan tata letak ruang ibadah.
Melalui fenomena Matahari tepat di atas Ka’bah, masyarakat dapat melakukan pengecekan mandiri tanpa alat khusus. Selama cuaca mendukung dan langkah pengukuran dilakukan sesuai panduan BMKG, hasil kalibrasi dapat menjadi acuan untuk memastikan kembali arah kiblat dengan lebih tepat.
Fenomena ini akan berlangsung hingga 17 Juli 2026. Bagi masyarakat di wilayah yang memenuhi syarat pengamatan, momen tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengecek kembali arah kiblat rumah maupun tempat ibadah sesuai panduan resmi BMKG.
Ikuti Berita7
