Berita7 — JAKARTA – Konflik antarwarga pecah di Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP, Nasyirul Falah Amru, mendesak agar penyelesaian konflik dilakukan melalui musyawarah mufakat tanpa kekerasan.
“Harusnya segala persoalan bisa dirampungkan dengan musyawarah mufakat. Konflik kalau hanya mengandalkan klaim tanah adat desa sampai kapan pun tidak akan selesai,” kata Falah kepada wartawan, Selasa (21/7/2026).
Falah meminta aparat keamanan segera turun tangan untuk meredam peristiwa tersebut guna mencegah konflik warga yang semakin meluas. Ia mendorong pihak kepolisian untuk mengupayakan penyelesaian konflik melalui jalur mediasi antarmasyarakat.
“Aparat keamanan juga harus segera turun untuk meredam dan menghindari konflik yang lebih parah. Untuk itu sebaiknya aparat kepolisian harus mengusut tuntas dan memediasi supaya bentrok tidak melebar dan segera tuntas,” ujarnya.
Diketahui, bentrokan tersebut terjadi antara warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak. Kepolisian mencatat ada tiga orang tewas dan lima orang lainnya mengalami luka ringan akibat insiden tersebut.
“Tiga orang meninggal dunia, lima orang luka ringan, dan 20 unit rumah terbakar,” ujar Kasi Humas Polres Flores Timur AKP Eliezer A Kalelado, Minggu (19/7).
Peristiwa bentrokan tersebut terjadi pada Sabtu (18/7) pagi. Eliezer menambahkan bahwa pendataan jumlah korban serta kerusakan rumah masih terus dilakukan pasca-bentrokan antara kedua desa.
Kasi Humas Polres Flores Timur AKP Eliezer A. Kalelado menyatakan bahwa personel gabungan TNI-Polri masih terus disiagakan di wilayah Adonara Timur untuk menjaga keamanan pascabentrokan hingga situasi benar-benar aman dan terkendali.
“Kami memastikan personel gabungan TNI-Polri tetap melaksanakan penjagaan di wilayah Adonara Timur untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ujarnya.
Ikuti Berita7
