Berita

Banjir Pandeglang: 29 Ribu Warga Terdampak, BPBD Sebut Intensitas Hujan Tinggi Jadi Penyebab

Advertisement

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang mencatat sedikitnya 29 ribu warga terdampak banjir yang melanda wilayah tersebut. Banjir ini tersebar di 12 kecamatan, merendam sekitar 7.000 Kepala Keluarga (KK).

Detail Dampak Banjir

Kepala BPBD Pandeglang, Riza Ahmad Kurniawan, menjelaskan bahwa ketinggian air di lokasi terdampak bervariasi, mulai dari 10 hingga 50 sentimeter. Ia merinci, “Dari 12 kecamatan, ada 7.000 KK, sekitar 29 ribu jiwa.”

Menurut Riza, banjir yang melanda wilayah selatan Pandeglang ini dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi. Curah hujan yang signifikan menyebabkan aliran sungai tidak mampu menampung debit air, sehingga meluap ke permukiman warga.

“Secara teknis penyebabnya memang sekarang masuk musim hujan, artinya curah hujan yang cukup tinggi kemudian debit air tidak tertampung sungai-sungai besar. Jadi terjadi luapan, luapan itu yang mengakibatkan banjir,” jelas Riza.

Empat Wilayah Masih Terendam Parah

Hingga saat ini, empat wilayah dilaporkan masih terdampak banjir secara parah, sementara di daerah lain air sudah mulai surut. Wilayah yang paling parah terendam adalah Sobang, Sukaresmi, Patia, dan Pagelaran.

Advertisement

Kepala Desa Idaman, Kecamatan Patia, Ilman, mengungkapkan bahwa banjir di wilayahnya telah berlangsung hampir lima hari. Akibatnya, ratusan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. “Ada tiga titik pengungsian,” ujar Ilman.

Kebutuhan Logistik dan Kesehatan Mendesak

Ilman juga menyoroti kondisi kebutuhan logistik bagi para korban banjir yang masih belum memadai. Bantuan yang diterima dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang sejauh ini hanya berupa beras dan mi instan.

“Mungkin jaraknya jauh, dari BPBD, Dinsos, belum ada telur atau lauk pauk, seadanya aja ini,” keluhnya.

Genangan air yang masih tinggi di beberapa lokasi menyebabkan sebagian warga mulai terserang penyakit kulit. Ilman berharap pihak terkait segera mendirikan posko kesehatan, mengingat warga saat ini hanya bisa mengandalkan bidan desa untuk berobat. “Di sini belum ada yang standby dari puskesmas mah, ada juga bidan desa di rumahnya,” ungkapnya.

Advertisement