Berita

Banjir Bandang Pandeglang: Rumah Hancur, Modal Usaha Asniah Rp 1,7 Juta Lenyap

Advertisement

Banjir yang melanda Kecamatan Patia dan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Jawa Barat, telah memasuki pekan kedua tanpa menunjukkan tanda-tanda surut. Bencana ini tidak hanya merusak infrastruktur pemukiman warga, tetapi juga meluluhlantakkan sumber mata pencaharian mereka. Salah satu kisah pilu datang dari Asniah (65), seorang lansia yang tinggal di Kampung Eretan, Desa Surianen, Kecamatan Patia.

Modal Usaha Lenyap Terbawa Arus

Asniah, yang hidup sebatang kara setelah suaminya meninggal enam tahun lalu, harus menelan pil pahit. Banjir bandang yang menerjang rumah berdinding bambu dan warung sederhananya turut menghanyutkan seluruh uang tabungannya yang disiapkan sebagai modal usaha. Uang sebesar Rp 1,7 juta, yang seharusnya digunakan untuk membeli bahan baku gorengan, kini lenyap tak bersisa.

“Bekerja sebagai penjual gorengan, hidup sendirian, air datang ibu lagi di luar. Uang ketinggalan di warung hanyut kebawa Rp 1,7 juta buat modal jualan gorengan, jualan gorengan keliling ke kampung, nggoreng di warung, entar dikelilingi sama ibu, bikin kripik bikin apa. Udah ibu mah cuma begitu doang pekerjaannya,” tutur Asniah dengan nada lirih saat ditemui di kediamannya, Jumat (16/1/2026).

Sawah Tergenang, Pendapatan Hilang

Bukan hanya usaha gorengan yang terancam, mata pencaharian Asniah lainnya, yaitu bertani, juga terganggu. Sawah yang menjadi tumpuan hidupnya kini tergenang air, membuatnya tidak bisa menanam maupun memanen padi.

“Kesawah kalau ada (panggilan) ini mah kesawah padinya gapuk (nggak ada isinya),” keluhnya.

Advertisement

Asniah, yang kini menjadi tulang punggung bagi dirinya sendiri, hanya bisa pasrah melihat kondisi yang dialaminya. Anak-anaknya telah berkeluarga dan memilih untuk tinggal terpisah.

“Hidup sendiri, hidup nggak bersuami kalau ada suami mendingan ada yang ngerjain, ada yang apa. Ibu mah hanya bisa nangis doang semenjak uang ibu palid (hanyut),” ujarnya.

Harapan di Tengah Bencana

Hingga kini, Asniah mengaku belum menerima bantuan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama masa bencana. Meskipun demikian, ia tetap bersyukur masih diberi keselamatan.

“Ini bukan rekayasa, ibu bukan minta dikasih tapi yang penting ibu selamat. Mudah-mudahan hati dermawan mau membantu ibu. Ibu juga pengen punya rumah layak seperti orang lain,” harapnya.

Advertisement