Berita7 — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah militer AS melancarkan serangan udara berskala besar di wilayah pesisir Iran. Operasi itu, menurut pernyataan resmi, menargetkan lebih dari 80 sasaran dengan amunisi presisi.
Serangan berlangsung di sekitar Selat Hormuz, kawasan strategis bagi pelayaran minyak dunia, pada saat ribuan warga Iran tengah menghadiri prosesi pemakaman besar. Pejabat AS menyebut skala serangan ini empat hingga lima kali lipat dibanding operasi sebelumnya sepuluh hari lalu.
Rincian Serangan
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan target yang dihantam mencakup sistem pertahanan udara, jaringan komando, radar pesisir, situs rudal anti-kapal, serta lebih dari 60 kapal kecil yang terkait Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Laporan setempat mencatat ledakan keras terdengar di beberapa titik pesisir, termasuk di Bandar Abbas, Sirik, dan Pulau Qeshm.
Seorang pejabat AS mengatakan Presiden memberikan perintah langsung menyetujui rencana serangan tersebut dari Turki, di sela kehadiran pada KTT NATO. “Iran memilih mengabaikan peringatan, jadi kami menaikkan intensitasnya,” ujarnya.
Dampak Diplomatik dan Ekonomi
Menanggapi serangkaian serangan terhadap kapal-kapal tanker di selat strategis, Washington mencabut sementara fasilitas pelonggaran sanksi untuk ekspor minyak Iran. Keputusan itu berpotensi mengganggu nota kesepahaman yang baru ditandatangani kedua negara beberapa minggu lalu dan menunda upaya diplomasi yang tengah berjalan.
Respons Iran
Markas Pusat Khatam-al-Anbiya, organ militer Iran, mengecam serangan AS sebagai agresi yang mencemari masa berkabung nasional dan berjanji akan memberikan “balasan yang menghancurkan.” Pernyataan militer juga menegaskan penolakan terhadap campur tangan asing di Selat Hormuz dan menyatakan, “Satu-satunya jalur aman bagi kapal komersial dan tanker minyak di Selat Hormuz adalah rute yang telah ditentukan oleh Republik Islam Iran.”
Ketua Parlemen dan kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui unggahan di media sosial menilai tindakan AS sebagai pelanggaran berat terhadap nota kesepahaman, sambil menegaskan, “Era intimidasi dan pemerasan sudah berakhir. Kami tidak akan tunduk.”
Situasi Politik Dalam Negeri
Kondisi domestik Iran turut terpengaruh: Presiden Masoud Pezeshkian membatalkan agenda luar negeri dan kembali ke Tehran untuk merespons situasi. Prosesi pemakaman Ali Khamenei dan anggota keluarganya tetap berlangsung sesuai jadwal, dengan rencana pemakaman di Mashhad.
Konflik ini terjadi di tengah transisi kepemimpinan setelah wafatnya mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada Februari 2026 dan pengalihan jabatan kepada Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Signifikansi Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi pusat eskalasi karena perannya sebagai jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. Langkah AS menghancurkan armada cepat IRGC sekaligus mencabut keringanan sanksi minyak dianggap sebagai upaya memotong jalur ekonomi dan kapabilitas militer Iran, sementara Tehran menegaskan kesiapan mempertahankan kontrol jalur navigasi sebagai alat tawar.
Sekilas, perkembangan ini menandai fase kritis dalam hubungan AS–Iran yang berimplikasi luas bagi stabilitas kawasan dan aliran energi global.
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.