Berita7 — WASHINGTON — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS melakukan serangkaian serangan udara skala besar ke wilayah Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi itu merupakan respons langsung atas insiden yang menargetkan tiga kapal dagang di Selat Hormuz beberapa waktu lalu.
Dalam pernyataannya, CENTCOM mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk memberikan “dampak signifikan” terhadap pihak yang dianggap menargetkan kapal komersial yang diawaki warga sipil. “Agresi yang ditunjukkan Iran tidak beralasan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata,” tulis CENTCOM melalui akun media sosial.
Target Serangan dan Skala Operasi
Pihak militer AS menyatakan serangan kali ini menyasar sejumlah titik strategis di Iran. Daftar target meliputi sistem pertahanan udara, instalasi rudal darat-ke-udara, lokasi peluncuran rudal jelajah anti-kapal serta pangkalan pesawat nirawak, dan fasilitas pelabuhan militer.
Seorang pejabat AS mengungkapkan intensitas serangan kali ini jauh lebih besar dibanding operasi sebelumnya, mencapai empat hingga lima kali lipat dari serangan yang berlangsung 10 hari lalu.
Versi Iran dan Insiden di Selat Hormuz
Media nasional Iran melaporkan sudut pandang berbeda terkait insiden di Selat Hormuz. Disebutkan sebuah kapal asal Qatar bermuatan nama Al-Rekayyat mencoba melintasi Selat Hormuz melalui jalur Oman dengan pengawalan Angkatan Laut AS, dan kemudian menjadi sasaran tembakan setelah disebut mengabaikan sejumlah peringatan dari pihak Iran.
Laporan lain menyebut setidaknya tiga kapal tanker terkena hantaman proyektil dalam insiden terbaru di kawasan Selat Hormuz.
Signifikansi Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis dan sensitif, menghubungkan Teluk Oman dan Teluk Persia. Selat ini merupakan jalur utama bagi sepertiga pasokan minyak mentah dunia yang diangkut lewat laut.
Konfrontasi di wilayah itu bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, Selat Hormuz kerap menjadi titik konflik antara Iran dan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat. Iran berulang kali mengancam penutupan selat jika kepentingan ekonominya diganggu, sementara AS dan sekutunya menegaskan komitmen menjaga jalur internasional tetap terbuka demi stabilitas pasokan energi global.
Insiden saling balas serangan belakangan ini dikhawatirkan dapat memicu lonjakan harga minyak dan memperluas skala konflik di kawasan Timur Tengah.
Ikuti Berita7
