Berita

Anak Politikus PKS Tewas dengan 19 Luka Akibat Perlawanan Saat Dibobol Perampok

Advertisement

CILEGON, BANTEN – Kasus pembunuhan sadis terhadap anak politikus PKS berinisial A (9) di Cilegon, Banten, akhirnya terungkap. Korban ditemukan dengan 10 luka tusuk dan sejumlah luka lebam di tubuhnya. Pelaku, HA, yang sempat buron selama tiga pekan, ditangkap saat kembali beraksi membobol rumah mantan anggota DPRD Cilegon, Roisudin Sayuri, pada Jumat (2/1/2026).

Saat tertangkap, HA sempat berusaha kabur ke dalam rumah sebelum akhirnya disergap oleh warga dan polisi. Pemeriksaan lebih lanjut mengungkap motif pelaku melakukan aksi kejinya adalah ekonomi. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Banten, Kombes Dian Setyawan, menjelaskan bahwa HA awalnya bermain saham kripto dengan modal Rp 400 juta dari tabungan bersama istrinya. Modal tersebut berkembang hingga menghasilkan keuntungan senilai Rp 4 miliar.

“Dari Rp 400 juta ini dimainkan berkembang sampai mendatangkan keuntungan senilai Rp 4 miliar,” kata Dian dalam konferensi pers di Polres Cilegon, Senin (5/1/2026).

Namun, keuntungan besar tersebut tidak membuat pelaku puas. Ia kembali bermain kripto menggunakan aplikasi, namun kali ini mengalami kekalahan. Untuk kembali bermain, pelaku meminjam uang dari bank sebesar Rp 700 juta, dari koperasi tempatnya bekerja Rp 70 juta, dan dari pinjaman online (pinjol) Rp 50 juta. “Tujuannya apa untuk main kripto lagi, tapi hasil yang diperoleh kalah kembali,” sambungnya.

Modus Pelaku Bobol Rumah

Polisi menyatakan HA beraksi seorang diri. Modus operandinya adalah dengan mengincar rumah secara acak. Pelaku akan memencet bel rumah berulang kali, biasanya tiga hingga empat kali. Jika tidak ada respons, pelaku menganggap rumah tersebut kosong, lalu melompat pagar untuk melancarkan aksinya.

“Pelaku ini adalah pelaku tunggal, kemudian melakukan pencurian di rumah yang jadi sasaran secara acak, modusnya adalah yang bersangkutan memencet bel. Memencet bel sampai dengan tiga kali sampai dengan empat kali, apabila tidak ada yang merespons dianggapnya itu adalah rumah kosong, sehingga yang bersangkutan akan meloncat pagar dan melakukan aksinya,” jelas Dian.

Dian menambahkan, pelaku telah merencanakan aksinya dan menyiapkan skema jika bertemu penghuni rumah. “Apabila dibel itu ada orang yang menemuinya mereka akan pura-pura menanyai alamat,” tuturnya.

Rumah politikus PKS tersebut merupakan Tempat Kejadian Perkara (TKP) pertama yang menjadi target pencurian pelaku. Saat kejadian, wilayah tersebut diguyur hujan lebat.

“Yang pertama TKP satu, kejadian kurang lebih durasi pukul 13.17-13.42, yang mana pada saat itu kondisi hujan lebat. Pelaku mendatangi ke TKP satu, memencet bel sebanyak 4 kali, tidak ada respons kemudian pelaku memencet melalui tiang di samping pos satpam,” kata Dian.

Setelah berhasil masuk, pelaku menuju lorong sebelah kiri rumah utama dan mencongkel jendela kamar pembantu di bagian kiri rumah. “Setelah berhasil masuk ke lantai satu, dilihat brankas di lantai satu, di situ ada brankas besar dengan kondisi pintu terbuka. Setelah mengotak-atik brankas dan tidak berhasil, bahkan brankas sampai digeser posisinya sudah geser ke kiri, yang bersangkutan naik ke lantai dua,” ucapnya.

Perlawanan Terakhir Korban

Di lantai dua, pelaku memasuki kamar korban A yang sedang bermain ponsel di kasur. Pelaku kemudian memberi isyarat agar korban diam. “Selanjutnya korban menghampiri, pelaku mengasih kode untuk diam,” katanya sambil memperagakan pelaku mengacungkan jari telunjuk ke mulut.

Advertisement

Pelaku sempat menanyakan keberadaan ayah korban. “Selanjutnya (pelaku) sempat nanya ‘ayahmu di mana?’. Korban sempat menjawab ‘keluar’,” tambahnya.

Saat ditanya mengenai kunci brankas, korban A menjawab tidak tahu dan menyebut kakaknya mungkin tahu, sambil menunjuk kamar kakaknya di ujung lantai dua. Pelaku kemudian merangkul korban dan membawanya ke lemari putih di kamar orang tua korban, lalu mengikatnya.

Saat hendak diikat, korban melakukan perlawanan dengan menendang kemaluan, lutut, dan siku pelaku. “Dari situ, pelaku langsung menusuk korban,” ucap Dian.

Korban sempat berteriak dan kembali ditusuk. Setelah itu, pelaku turun ke lantai satu menuju brankas. Ditemukan bekas darah di bagian kunci kode dan bagian atas brankas. “Dipikirnya tidak berhasil, pelaku langsung kabur lewat jalan masuk yaitu jendela pembantu, loncat pagar dan melarikan diri,” lanjutnya.

19 Luka di Tubuh Korban

Kepala Instalasi Forensik RSUD Cilegon, Baety Adhayati, menjelaskan bahwa luka di leher korban memutus pembuluh nadi utama dan menyebabkan pendarahan hebat. Luka tusuk di dada kanan yang menembus paru-paru juga mengakibatkan pendarahan dan paru-paru terperangkap di iga.

“Dari luka-luka yang ditemukan ada 2 sebab kematian, yaitu luka tusuk di leher kiri yang memutus pembuluh nadi utama, yang mana kemudian menyebabkan pendarahan dan luka tusuk dada kanan yang menembus paru dan mengakibatkan pendarahan dan terperangkapnya paru di iga,” kata Baety kepada wartawan, Senin (5/1/2026).

Baety menambahkan, kedua luka tersebut menjadi penyebab kematian korban, sementara luka lainnya tidak fatal. “Itulah yang menjadi sebab kematian dari korban sedangkan luka lain tidak menimbulkan kematian,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan ada 19 luka di tubuh korban, terdiri dari 10 luka tusuk dan 9 luka akibat benda tumpul yang menyebabkan memar, lecet, dan bengkak. “Ada 10 luka tusuk dan 9 luka tangkis dan sisanya kekerasan tumpul berupa memar luka lecet dan bengkak,” katanya.

Polisi menyita dua bilah pisau berukuran sekitar 24 cm dari tersangka. Salah satu pisau tersebut diduga digunakan untuk membunuh korban. “Barang bukti yang kami terima satu bilah pisau dengan gagang kayu ukuran sekitar 24 cm di dalam kertas pembungkus. Ada 2 belah pisau yang satu masih dalam bungkusnya dan satu tidak ada bungkusnya. Ukuran sama dan merek yang sama dan satu buah masker warna hitam,” kata perwakilan dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, Kompol Irfan Rofik.

Advertisement