Ogan Ilir, Sumatera Selatan – Selama 15 tahun, Aipda Iwan Haryanto mendedikasikan dirinya untuk membina ratusan petani di Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Upayanya ini tidak hanya meningkatkan sektor pertanian setempat, tetapi juga berdampak signifikan pada perekonomian desa, sejalan dengan program prioritas pemerintah terkait Ketahanan Pangan.
Inovasi dan Bimbingan untuk Petani
Aipda Iwan secara aktif mengajari para petani berbagai teknik pertanian, mulai dari cara menanam, pemupukan, hingga penyemprotan. Salah seorang petani di Indralaya, Ogan Ilir, bernama Wawan, mengaku banyak belajar dari Aipda Iwan, terutama dalam budidaya jagung dan melon. “Beliau baik, dia pengertian, membimbing kami sebagai petani, baiklah kepribadiaannya,” ujar Wawan kepada detikcom, Selasa (3/2/2026).
Wawan, yang sudah mengenal Aipda Iwan selama enam tahun, menambahkan, “Contohnya banyaklah, satu sering ngajarin cara-cara penanaman jagung, cara pemupukan, cara penyemprotan.” Ia juga terkesan dengan inovasi Aipda Iwan yang merakit mesin perontok jagung. Kehadiran mesin ini sangat membantu petani yang sebelumnya harus merontokkan jagung secara manual karena mahalnya harga mesin pabrikan.
“Iya ada mesin pemipil jagung. Sangat membantu, kami petani. Membantu, sangat membimbing kami Pak Iwan-nya,” tutur Wawan.
Peningkatan Pendapatan Melalui Penyerapan Hasil Panen
Lebih lanjut, Wawan menjelaskan bahwa Aipda Iwan juga berperan dalam penyerapan hasil panen jagung. Saat ini, jagung petani diserap langsung oleh Bulog dengan harga jual yang lebih tinggi, mencapai sekitar Rp 6.400 per kilogram, dibandingkan dengan harga tengkulak yang berkisar Rp 5.000.
“Lumayanlah untuk petani ini kan, untuk ongkos-ongkos kami kan, makan-minum,” sambung Wawan, yang menggarap lahan seluas 2 hektare.
Asal Muasal Keahlian Bertani Aipda Iwan
Bertani merupakan hobi Aipda Iwan yang telah digelutinya selama belasan tahun, diwarisi dari orang tuanya. Ia mulai aktif menggarap berbagai tanaman sejak 15 tahun lalu, dimulai dari melon hingga jagung. Karena kemampuannya dalam berbagi ilmu pertanian, Aipda Iwan dipercaya menjadi pembina dan anggota kelompok tani Serai Makmur Sejahtera.
“Kalau saya menggeluti pertanian ini sudah 15 tahun, jadi untuk tanam jagung sudah lama. Tapi untuk Ketahanan Pangan ya pada saat pemerintahan Pak Prabowo,” terang Aipda Iwan.
Bersama kelompok taninya yang beranggotakan sekitar 20 orang, Aipda Iwan menggarap sekitar 30 hektare lahan yang ditanami jagung dan melon.
Upaya Meningkatkan Ekonomi Desa
Aipda Iwan bersyukur atas kontribusinya dalam meningkatkan perekonomian desa melalui sektor pertanian. Ia mengaku telah membina lebih dari 100 petani hingga mandiri.
“Alhamdulillah kalau 100 orang lebih sudah banyak ada yang mandiri, alhamdulillah sudah ada yang berhasil nanam melon, nanam jagung. Bahkan barusan Desa Senural, yang ada di Kabupaten Ogan Ilir ini pengen sharing, sama-sama belajar,” imbuhnya.
Dalam satu bulan, petani binaannya dapat menghasilkan Rp 3-4 juta per bulan. Banyak warga yang beralih ke pertanian karena dianggap memiliki penghasilan yang lebih stabil.
“Alhamdulillah sudah bisa mencukupi untuk anak-anak sekolah. Jadi banyak profesi seperti tukang, itu ada yang berubah jadi petani. Mereka nggak mau lagi nukang, mereka milih bertani, karena hitungannya baginya 3,5 bulan, hasilnya sekian, dihitung-hitung enak dia bertani,” kata dia.
“Kalau dibagi untuk jagung ini, dalam satu hektare itu mereka masih dapat duit sekitar Rp 14 juta, rata-rata lebih kurang lebih Rp 3 juta per bulan, itu pasti hari-hari mereka kerja, kalau nyari kerjaan lain, kadang-kadang dua hari nggak kerja, ini terhitungnya setiap hari dapat pekerjaan,” sambung dia.
Inovasi Mesin Pengering Jagung Buatan Sendiri
Satu hektare lahan dapat menghasilkan 6 hingga 8 ton jagung. Jagung tersebut kemudian dirontokkan dan dikeringkan menggunakan mesin dryer atau oven rakitan Aipda Iwan dan kelompok taninya.
“Di samping dari pertanian saya juga buat mesin dryer jagung buatan sendiri saya dan teman-teman. Jadi budgetnya lebih kecil dibanding kita beli pabrikan,” kata Iwan.
Motivasi utama Iwan merakit mesin pengering jagung secara mandiri adalah untuk menjaga kualitas jagung yang bisa menurun jika hanya dijemur di bawah sinar matahari, terutama saat cuaca tidak menentu. Mesin dryer ini menelan biaya sekitar Rp 30 jutaan, dengan total biaya rumah dan atap mencapai Rp 100 jutaan.
“Saya menghadap ke Pak Kapolres Ogan Ilir, saya minjam uang bank Rp 100 jutaan, alhamdulillah Pak Kapolres acc, kemudian saya cairkan uang saya dengan agunan SK. Saya buatkan oven, ya alhamdulillah bisa bermanfaat untuk kawan-kawan ini,” ungkap Iwan.
Mesin dryer ini mampu mengeringkan jagung hingga kadar air 14%, standar penjualan ke Bulog, sehingga petani dapat memperoleh harga jual yang lebih tinggi.
“Dalam penanaman jagung masih ada kendala, kendalanya jagung yang diterima Bulog kadarnya 14% untuk yang kering, dan kadar 20 untuk di lokasi petani, jadi kalau dijemur matahari kadang-kadang hujan,” ucap dia.
Mesin Dryer Jagung Diborong Kapolda Sumsel
Mesin dryer berkapasitas 10 ton ini berbentuk seperti rumah dengan mesin pemanas berbahan bakar kayu bakar. Kapolda Sumatera Selatan telah membeli 4 unit mesin ini.
“Mesin saya kemarin sudah dibeli juga oleh Kapolda Sumsel sebanyak 4 unit, sempat mesen sama saya dan saya buatkan alhamdulillah sudah beroperasi di Oku Timur dan Oku Selatan,” ujar Iwan.
Mesin rakitan Iwan ini juga telah digunakan oleh petani di Ogan Komering Ulu Timur dan Ogan Komering Ulu Selatan, menunjukkan manfaatnya di luar daerah.
Kapolri Borong Mesin Perontok Jagung Rakitan Iwan
Selain mesin pengering, Aipda Iwan bersama kelompok taninya juga memproduksi mesin perontok jagung yang harganya lebih terjangkau dibandingkan mesin pabrikan.
“Kami lagi menyisihkan gimana kita buat pertanian ini mudah, alat-alat kita rakit sendiri, alat penggilingan,” ujar Iwan.
Mesin perontok jagung ini sangat memudahkan pekerjaan, mampu memisahkan kulit jagung hingga bersih menjadi biji siap jual. “Lengkap Rp 20 juta mesin pemipil multifungsi bisa memipil beserta kulit jagungnya,” ucap dia.
Sebanyak 15 unit mesin perontok jagung ini telah dibeli oleh Kapolri melalui Kapolda Sumatera Selatan untuk dibagikan kepada petani di Sumatera Selatan.
Iwan merakit mesin ini secara otodidak, menggabungkan pengetahuan dasar mesin dan pengelasan dengan tutorial dari YouTube.
“Jadi saya ini sembari lihat-lihat youtube, tapi saya basic sudah bisa mesin sama pengelasan. Saya gabungkan, ilmu yang petunjuk-petunjuk yang ada di YouTube sama dari kreatifitas kita,” jelasnya.
Mesin perontok dan pengering jagung buatan Aipda Iwan dapat digunakan secara gratis oleh petani di Ogan Ilir, hanya dengan mengisi bahan bakar.
Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani
Aipda Iwan juga membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk memberdayakan istri petani. Mereka diajarkan mengolah jagung menjadi pakan ternak.
“Saya juga membentuk KWT, kelompok wanita tani. Jadi memberdayakan istri-istri petani untuk usaha jagung pecah. Jadi jagung yang kami hasilkan selain disetor ke Bulog, kita giling lagi, kita buat mesin sendiri kita pecah untuk jadi pakan ternak ayam itu,” kata dia.
KWT yang beranggotakan 12 orang ini mengolah jagung menjadi pakan ternak dan memasarkannya. Satu karung berisi 15 kg jagung halus untuk pakan ternak dijual seharga Rp 120 ribu.
“Mesinnya pun kita buatkan, karena untuk meminimalisir harga kalau mesin dibeli di luar mahal. Kalau bikin sendiri misalnya untuk pecah jagung, kalau di pasaran bisa Rp 15 juta, kalau bikin sendiri 5 juta, kita beli alat. Tenaga kan tenaga kita, jadi nggak minta upah,” ucap dia.
Penggerak Ketahanan Pangan di Ogan Ilir
Kepedulian Aipda Iwan di bidang pertanian mendapat dukungan penuh dari Polres Ogan Ilir. Kabag SDM Polres Ogan Ilir, AKP Burnani, menyatakan bahwa Aipda Iwan ditugaskan sebagai penggerak ketahanan pangan di Ogan Ilir.
“Dia ini penggerak daripada petani-petani untuk bercocok tanam jagung. Tadinya wilayah Ogan Ilir, padi, karet tidak ada yang nanam jagung, dialah memotor penggerak segalam macam,” kata AKP Burnani kepada detikcom.
Kelompok tani binaan Aipda Iwan telah menjadi percontohan di Ogan Ilir, bahkan sering dikunjungi oleh pejabat tinggi, termasuk Kapolda dan dalam acara panen raya bersama presiden.
AKP Burnani juga membenarkan bahwa 15 unit mesin perontok jagung karya kelompok tani Aipda Iwan dibeli oleh Polri untuk dibagikan kepada petani jagung setempat.






