Berita7 — Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) bekerja sama dengan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) telah mengadakan pertemuan strategis dengan perwakilan dari 20 universitas negeri. Diskusi yang berlangsung intens selama hampir lima jam ini memfokuskan pada lima isu krusial, mencakup kesehatan hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketua MRPTNI, Eduart Wolok, menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari Sarasehan Kebangsaan yang sebelumnya dibuka oleh Presiden dan dihadiri ribuan akademisi. Kelima isu strategis yang dibahas dirancang untuk mendukung program-program prioritas pemerintah.
Lima Isu Strategis yang Dibahas
Isu pertama yang diangkat adalah terkait kesehatan, termasuk pola pendidikan kesehatan, program pendidikan dokter, spesialis, dan subspesialis. Selain itu, ketahanan pangan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut dibahas dari sisi kontribusinya.
Selanjutnya, diskusi menyentuh tata kelola perguruan tinggi negeri (PTN) yang diharapkan dapat berkontribusi dalam optimalisasi Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia. Pemanfaatan SDA ini diharapkan dapat mendukung kebijakan pembiayaan pendidikan tinggi yang berkeadilan. Isu terakhir yang dibahas adalah mengenai riset untuk peradaban Nusantara.
Eduart Wolok menggambarkan diskusi berjalan secara cair, terbuka, dan konstruktif. Ia menekankan bahwa forum ini bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas PTN sekaligus merespons berbagai persoalan bangsa. “Semuanya bagaimana kita kembangkan, kita angkat selain untuk meningkatkan kapasitas kapabilitas PTN, tapi merespons isu-isu persoalan bangsa hari ini dan bagaimana PTN bisa mengambil peran sesuai fungsinya untuk memberikan kontribusi demi kesuksesan program-program ini,” ujarnya.
Peran PTN dalam Generasi Emas
Kepala Bappisus, Aris Marsudiyanto, mengapresiasi partisipasi 20 perwakilan PTN dalam diskusi tersebut. Ia menegaskan kesiapan PTN untuk berkontribusi pada program pemerintah. “Perguruan tinggi negeri itu adalah tempat wadah orang-orang pintar ya toh, untuk menciptakan generasi-generasi emas ya, generasi-generasi smart,” ungkap Aris.
Aris juga menyampaikan harapannya agar para rektor dapat menanamkan lima jenis kecerdasan kepada mahasiswa mereka. Kelima kecerdasan tersebut meliputi kecerdasan intelektual (IQ), spiritual (SQ), emosional (EQ), kreativitas (CQ), dan ketahanan menghadapi tekanan (AQ).
Ia menekankan pentingnya spiritual quotient untuk menumbuhkan hati yang baik dan bersih di kalangan mahasiswa, serta menjauhi perilaku negatif seperti kecurigaan dan intimidasi. Emotional quotient diharapkan membantu mahasiswa mengelola emosi dengan baik, bertutur kata sopan, dan bermoral.
Lebih lanjut, Aris mendorong mahasiswa untuk mengembangkan creativity quotient di bidang masing-masing, menghindari pembicaraan yang tidak profesional atau di luar keahlian prodi. Terakhir, adversity quotient menjadi krusial agar mahasiswa memiliki ketahanan dalam menghadapi tekanan di tengah persaingan global yang semakin ketat. “Kalau kita hanya ribut melulu ya toh daya tahan kita rendah, ya selalu ya toh berkompetisi dengan orang-orang kita sendiri tapi untuk berkompetisi dengan negara lain, putra-putra ya toh negara lain kita ketinggalan jauh,” pungkasnya.
Ikuti Berita7
