Tukang Ojek Nyambi Jadi Kurir Sabu Keok Diringkus BNN dan Lanal

by -
Tukang Ojek Nyambi Jadi Kurir Sabu Keok Diringkus BNN dan Lanal
MS bersama rekannya saat digiring anggota TNI AL usai menyaksikan pemusnahan di Mako Lanal Batam. (Foto: Agung/berita7)

berita7.co.id, BATAM – Seorang pria MS (43) yang berprofesi sebagai tukang ojek tak berkutik, setelah petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP)  Kepri dan tim Lanal Batam meringkusnya lantaran kedapatan membawa dua kantong kertas yang diyakini berisi sabu seberat kurang lebih 2 kg,  Senin (14/10/2019) lalu. 

Adapun penangkapan tersebut berlokasi dipinggir jalan Pantai Piayu laut Sei Beduk,  sekira pukul 02.30 WIB di pinggir Pantai Piayu Laut Kecamatan Sei Beduk Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau.

Menurut Keterangan MS, dirinya mendapat tawaran sebagai kurir untuk membawa barang haram tersebut dari pesanan seorang pria berinisial J (DPO)  yang tak lain adalah langganan ojekanya. 

Baca juga : Pemilik Kosmetik Ilegal Belum Tertangkap

“Jadi MS ditawari ketika mengantar saudara J (DPO) dari Legenda Malaka menuju Baloi Center. Setelah sepakat dengan tawaran tersebut J (DPO) meminta nomor handphone tersangka untuk diberikan kepada Bos dari Malaysia, “Ujar Kepala BNNP Kepri Richard Nainggolan di Mako Lanal Batam, Selasa (12/11/2019).

Kata Richard lagi, dari pengakuan tersangka dirinya sama sekali tidak mengenal Bos dari Malaysia, MS hanya melakukan komunikasi melalui telepon genggam. 

“Tersangka mengakui telah melakukan pekerjaan sebagai kurir sabu sebanyak tiga kali termasuk dengan sabu yang diamankan oleh Lanal Batam. Dan setiap pengantaran MS diupah dengan uang 5 juta, tak hanya itu MS juga ikut mengkonsumsi sabu,” Jelasnya. 

Dari barang bukti Narkotika jenis Sabu yang disita dari tersangka, BNNP Kepri memusnahakan barang bukti  sebanyak 1.955,4 gram dan sebanyak 67,6  gram disisihkan untuk uji laboratorium dan pembuktian perkara di persidangan.

“Atas perbuatannya tersebut tersangka dikenakan pasal pasal 114 ayat (2), pasal 112 ayat (2), UU RI No.35 Tahun 2009 dengan hukuman maksimal hukuman mati atau seumur hidup,” Tegas Richard. (Agung Dedi Lazuardi)