— Sebuah ledakan yang diduga berasal dari bom rakitan mengguncang kawasan olahraga Dadaha, Kelurahan Nagarawangi, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Sabtu malam sekitar pukul 23.00 WIB. Peristiwa itu berawal dari perselisihan antar pedagang kaki lima (PKL) sehingga suasana menjadi tegang.

Kepolisian setempat menyatakan telah menetapkan satu orang sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Tersangka yang ditahan berinisial AAS, seorang penjual es teh jumbo dan disebut-sebut sebagai mantan narapidana tindak pidana terorisme.

Awal Kejadian

Menurut keterangan saksi, keributan dipicu ketika seorang pedagang tahu gejrot berinisial E memarahi kakak dari pedagang jagung berinisial S. Saksi lain berinisial SF (48) mencoba melerai dan membawa E menjauh dari jalan utama untuk meredakan ketegangan.

Situasi memanas kembali saat AAS datang dan memaki E. Saat SF berusaha menenangkan AAS agar tidak terjadi kontak fisik, terdengar ledakan keras dari arah belakang posisi saksi.

Barang Bukti dan Proses Penanganan

Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Andi Purwanto, mengatakan petugas mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi. Bukti itu meliputi material logam dan bahan kimia yang disebut berbahaya, antara lain pupuk KCL, belerang, bubuk aluminium, baterai, instalasi kabel, serta perangkat kendali jarak jauh (remote).

“Jadi gini teman-teman, kami dari Polres Tasikmalaya Kota pada Sabtu malam kurang lebih jam 11 malam mendapatkan laporan pengaduan dari UPTD Dadaha ini, bahwa terjadi permasalahan yang mengakibatkan adanya ledakan,”

Andi mengatakan tim melakukan penyelidikan bersama Ditkrimum dan telah menggelar perkara. Sejauh ini tiga orang diamankan untuk dimintai keterangan, sementara AAS ditahan di Mapolres Tasikmalaya Kota.

Status Hukum

AAS dijerat dengan pasal terkait penyalahgunaan senjata tajam, senjata api, dan bahan peledak sebagaimana tertuang dalam pasal 306 atau pasal 308 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

Kapolres menegaskan motif insiden ini bukan aksi teror, melainkan masalah personal antar pedagang.

“Sebetulnya ini motif sepele hanya perselisihan antar kedua belah pihak, saling ejek hingga menyebabkan kejadian seperti itu, motifnya ada masalah pribadi dan tidak ada teror motifnya,” kata Andi.