Pemerintah Mengakui Harga Kopra Memperihatinkan

by -
Pemerintah Mengakui Harga Kopra Memperihatinkan
Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti. (Foto: Soleh/berita7)

berita7.co.id, NATUNA – Pemerintah Kabupaten Natuna mengaku perihatin dengan harga kopra yang sedang dalam posisi titik terendah sejak beberapa tahun belalangan ini. Setelah keadaan ini terjadi, pelaku usaha kopra dan petani kelapa di Natuna tidak pernah mendaptkan keuntungan.

Kabid Perdagangan Disprindagkop Kabupaten Natuna, Alianda Rangkuti mengatakan, harga kopra saat ini sudah mencapai angka Rp. 250 ribu sampai Rp.320 ribu perkuintal (100 kg), harga ini disebutnya sangat rendah sekali. 

“Ya betul, kami perihatin dengan harga kopra yang terjadi saat ini. Penurunan harga kopra sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun belakangan ini di tataran nasional dan titik terendahnya seperti yang terjadi saat ini,” Kata Alianda di tempat kerjanya melalui telepon, Sabtu (26/10/2019).

Baca juga : Kapolres Ajak DPRD Natuna Basembang Bercerite

Harga ini dinilainya sangat tidak ekonomis bagi para pelaku industri kopra. Bahkan ia menyatakan pengerajin kopra pasti merugi jika dibandingkan antara harga yang terjadi sekarang dengan beaya operasional yang diperlukan. 

“Karena untuk 1 kilo kopra minimal 2 butir kelapa ukuran besar. Sementara harga kelapa di kebun pun juga akan sangat memperihatinkan bila kurang dari seribu rupiah perbutir. Jadi kalau harga cuma segitu, pengusaha dan pekebun tidak dapat untung,” terangnya. 

Terkait hal tersebut, pemerintah telah berupaya menggaet pasar nasional untuk dapat mengakomodir produk kopra Natuna. Menariknya produk kopra asal Natuna bisa didistribusikan melalui Kapal Tol Laut secara reguler sesuai jadwal kapal sehingga beaya diatribusi bisa ditekan.

“Kami sudah koordinasikan dengan beberapa pasar nasional. Di antara mereka ada yang sanggup menerima, cuma mereka cukup selektif sekali,” papar Aliandi. 

Lanjutnya, mereka tidak mau menerima kopra yang diproduksi menggunakan kelapa yang masih muda dan tidak terlalu tua. “Mereka juga tidak mau menerima produk kopra kalau kelapanya sudah tumbuh tunas,” jelasnya.

Aliandi menjelaskan, ada investasi yang masuk ke Natuna agar produk kelapa Natuna yang dulu pernah menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar masyarakat bisa bangkit kembali seperti sediakala.

“Harapan kami ada investasi, kami selalu berupaya ke arah situ. Mudah-mudahan dengan adanya investasi, produk komoditas kelapa di Natuna bisa berkembang. 

Ia berharap bukan hanya kopra yang bisa dibangkitkan, tapi produk lain seperti minyak kelapa, santan dan bahkan sabut serta tempurungnya juga bisa dikembangkan menjadi komoditas yang bernilai ekonomis. (Soleh)

No More Posts Available.

No more pages to load.