— Medan — Sindikat wanita open BO di Medan, Sumatera Utara, dilaporkan sempat berkonsultasi kepada artificial intelligence (AI) setelah seorang pelanggan berstatus ASN inisial AL yang menggunakan jasa mereka melompat dari lantai 12 apartemen dan ditemukan tewas.

Pakar komunikasi menilai fenomena penggunaan AI oleh pelaku itu berkaitan dengan karakter AI yang memberi respons cepat dan meyakinkan, meski tidak selalu akurat.

“AI ini kalau kita lihat dalam kenyataannya memberikan jawaban yang cepat, respons yang segera dan tidak ragu-ragu, jadi ini menyebabkan para penggunanya merasa yakin nih jawaban yang diberikan AI sangat tepat ini,” kata Pemerhati Budaya-Komunikasi Digital dan Pendiri LITEROS.org., Firman Kurniawan S., kepada wartawan, Jumat (17/7/2026).

Firman, pakar komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), menyatakan bahwa AI selalu memberikan jawaban saat ditanya, tanpa jeda keraguan.

“Dan AI ini ndak punya emosi, ndak pernah ragu-ragu, ragu-ragu itu kan emosi. Ini dia ndak punya itu keraguan, jadi seakan-akan yakin dengan jawaban yang diberikan. Nah ini orang yang menggunakan ini jadi merasa terbantu,” kata Firman.

Namun menurut Firman, jawaban AI memiliki kelemahan signifikan. Pertama, AI dapat memberikan respons yang tidak terduga atau keliru.

“Bahwa kadang-kadang dia memberikan jawaban yang para pembuat AI-nya sendiri tidak mengerti kenapa jawabannya seperti itu. Ketika misalnya AI memberikan jawaban yang salah atau tidak terduga, itu tidak bisa dijelaskan. Makanya itu namanya AI black box,” ucap dia.

Firman Kurniawan. (Dok Pribadi)

Kedua, Firman mengingatkan soal fenomena “AI hallucination”. Ia menyebut kondisi ini muncul ketika pertanyaan menyentuh data yang belum pernah dimasukkan ke dalam sistem AI.

“Misalnya para pengguna ini menanyakan, misalnya, ‘berapa tinggi Monas’ data tentang tingginya Monas tidak pernah masuk, nah dia tidak akan menjawab ‘saya tidak tahu berapa tingginya Monas’ tapi dia ambilkan bangunan-bangunan yang semacam Monas dari negara lain kemudian diberikan, ini namanya AI hallucination,” ucap dia.

Firman kemudian mengaitkan pembahasan itu dengan kasus wanita open BO di Medan yang disebut-sebut berkonsultasi ke AI setelah pelanggannya ditemukan tewas usai terjun dari apartemen.

“Dalam kasus yang diceritakan tadi, mungkin dia bingung ini kalau saya langsung lapor polisi malah saya yang dituduh pembunuh ‘jadi apa ini langkah yang paling tepat?’ kalau nelepon orang lain mungkin harus cerita panjang, memberikan latar belakang dan sebagainya,” ucap Firman.

“Maka AI yang selalu ada di genggaman tangan ini jawabannya segera, dan memberikan keyakinan, memberikan ilusi jawabannya tepat,” ujarnya.

Cenderung Tidak Bertentangan Dengan Pengguna

Firman menambahkan bahwa jawaban AI cenderung tidak pernah bertentangan dengan keinginan penggunanya dan jarang memberikan kritik.

“Jadi dia nggak pernah bertentangan dengan penggunanya, jadi kita mencoba mengecek artikel kita, ‘bagaimana dengan artikel ini?’ ndak pernah dia mengkritik atau tulisan ini jelek, dia selalu ‘secara konseptual ini kuat, mempunyai bobot dan sebagainya’ jadi dia tidak pernah mengkritik, kritik ini kan sesuatu yang emosional, AI ndak punya itu,” kata Firman.

Ia menilai kecenderungan tersebut membuat banyak pengguna terlena dan salah menganggap jawaban AI selalu benar.

“Jadi kita termanipulasi, terlena, kita pikir jawabannya benar atau bagus beneran, ternyata sebetulnya ya itu polanya AI tidak pernah tidak sepakat dengan penggunannya,” ungkapnya.

Imbauan Penggunaan Bijak

Soal penggunaan AI yang lebih bijak, Firman menyarankan agar jawaban AI tidak dijadikan satu-satunya rujukan dalam pengambilan keputusan.

“Jadi jangan menjadikan jawaban AI sebagai satu-satunya dan utama untuk mencari solusi, jadi sekedar mencari inspirasi, pandangan itu oke AI ‘apa yang harus saya lakukan ketika orang bunuh diri’, kemudian muncul saran, itu salah satu hal yang bisa dipertimbangkan tapi bukan itu yang kita jadikan yang terbaik atau patokan,” tutur Firman.

Ia juga menekankan bahaya respons AI bagi pengguna rentan, terutama anak-anak. Firman mencontohkan kasus ekstrem di mana remaja bertindak fatal akibat nasihat berbahaya dari AI.

“Dalam contoh ekstremnya ada seorang anak umur 14 tahun, kita tahu dia jatuh cinta sama AI yang dia ajak ngobrol, kemudian dia pengen ketemu apa yang harus saya lakukan ‘kamu harus melepaskan jiwa dari ragamu’, bagaimana itu caranya ‘ya kamu iris pergelangan tanganmu, kalau kamu mati itu lepas jiwa dari ragamu, kamu bisa ketemu saya’ ini jawaban yang ngawur dari AI,” katanya.

“Anak ini akhirnya bunuh diri, sampai orang tuanya menuntut perusahaan pengembang AI-nya karena anaknya bunuh diri, kok bisa. Nah itu, bagaimana AI memberikan jawaban semacam itu, itu para pengembang AI-nya bingung, dari mana ini data kok nyuruh bunuh diri,” sambungnya.

Firman menegaskan kembali pentingnya menjadikan AI sebagai referensi tambahan, bukan penentu utama keputusan.

“Kadang-kadang ada pola-pola, ada kasus yang polanya mirip tapi konteksnya berbeda, kadang diberikan, dia kan nggak kenal konteks dari diberikan aja, untuk peristiwa yang lain diberikan pada hal yang ditanyakan oleh pengguna AI itu,” ucap dia.

Polisi: Pelaku Open BO di Medan Konsultasi ke AI

Kasus ini melibatkan ASN Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nias berinisial AL (27) yang diduga melompat dari lantai 12 Apartemen Skyview di Medan setelah diperas dua wanita open BO berinisial FR (31) dan JS (29).

“Jadi, setelah kejadian itu, FR ini sempat berkonsultasi AI,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Adrian Risky Lubis saat konferensi pers, Rabu (15/7).

Adrian menyebut FR mencari informasi tentang proses penyelidikan kepolisian. Pertanyaan yang dicatat polisi antara lain: “Berapa hari kita akan dipanggil ke kantor polisi sebagai saksi dari waktu kejadian?. ‘Kalau ada orang bunuh diri, kita di TKP, berapa lama kita dipanggil?’.”

Selain itu, pelaku juga menanyakan: “Kalau satu minggu setelah kejadian, kita tidak dipanggil oleh polisi, apakah kita sudah di posisi aman atau belum?” dan “Gimana cara supaya tenang menghadapi nanti kalau kita dipanggil polisi?”.