Berita

Narapidana Lapas Tangerang Ubah Limbah PLTU Jadi Paving Block Bernilai Ekonomi

Advertisement

Sebanyak 35 narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, Banten, berhasil mengolah limbah flying ash bottom ash (FABA) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar menjadi material bangunan, khususnya paving block. Produksi ini dilakukan di dalam kompleks lapas yang disulap menjadi pabrik sederhana, sebagai bagian dari program pembinaan keterampilan bernilai ekonomi yang dicanangkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) di bawah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).

Pembinaan Produktif untuk Bekali Napi

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menekankan pentingnya pembinaan napi melalui kegiatan produktif. “Jika napi hanya makan, tidur di lapas, tidak diarahkan, diberikan sarana dan prasarana untuk melakukan aktivitas produktif, maka nanti keluar dari lapas dia bingung mau ngapain. Kemungkinan kembali melakukan kejahatan,” ujar Agus di Jakarta, Kamis (12/2/2026). Ia meyakini pemanfaatan balai latihan kerja secara maksimal akan memberikan dampak positif bagi narapidana. Kemenimipas turut membantu pemasaran produk-produk buatan napi agar mereka dapat merasakan hasil dari kegiatan produktifnya.

“Jika warga binaan diarahkan, diberi fasilitas belajar dan mengembangkan diri, bahkan memproduksi suatu produk yang memiliki nilai ekonomis, maka kami yakin akan ada perubahan dalam diri mereka, baik kemandirian maupun perubahan positif lainnya. Misalnya yang ikut kegiatan pengolahan FABA ini, saat produl terjual maka mereka dapat premi,” jelas Agus.

Produksi dan Pemasaran ‘Jawara Beton’

Pabrik FABA di Lapas Tangerang telah menghasilkan total 300.036 buah paving block, dengan 286.836 di antaranya telah laku terjual. Material bangunan ini diberi merek ‘Jawara Beton’. Dalam sehari, pabrik ini mampu memproduksi 865 tray paving block, di mana setiap tray berisi 12 buah. Sebanyak 35 narapidana dibagi dalam dua sif kerja, mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB dan 13.30 hingga 17.00 WIB.

Paving block hasil olahan FABA ini telah diminati berbagai kalangan, termasuk rumah ibadah, tempat usaha, pengembang permukiman, hingga kantor-kantor di jajaran Kemenimipas. Pabrik FABA di Lapas Kelas I Tangerang merupakan hasil kerja sama Kemenimipas dengan PT PLN (Persero). Selain paving block, FABA juga diolah menjadi batako.

Premi untuk Narapidana

Salah satu narapidana berinisial FF mengungkapkan rasa senangnya terlibat dalam produksi ‘Jawara Beton’. Ia mengaku mendapatkan premi sekitar Rp 300-350 ribu yang dibagi dengan dua narapidana lainnya di bagian cetak paving block. “Saya di sini sudah dari kira-kira 6-7 bulanan,” kata FF dalam video yang diunggah Menteri Agus di akun Instagramnya, Selasa (13/1/2026).

Advertisement

“Sebelum produksi paving block ini rasanya jenuh juga di kamar, nggak ada kegiatan. Tiap hari nggak ngapa-ngapain di kamar,” lanjut FF. Ia menambahkan, premi yang didapat dapat digunakan untuk keluarga atau keperluan pribadi di dalam lapas. “Premi kita hitungan 1.000 pertray, produksi 1 mesin bisa sampai 300 tray, paling banyak 350 tray. Bisa buat keluarga juga, bisa buat jajan di sini,” ungkap FF.

Solusi Inovatif PLN dan Kemenimipas

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo pada Kamis (2/1/2025) bertemu dengan Menteri Agus Andrianto di Kemenimipas. Darmawan menjelaskan bahwa PLN memiliki bahan baku FABA dari sisa hasil PLTU yang dapat diolah menjadi material konstruksi. Ia menilai olahan material konstruksi ini mampu menekan biaya pembangunan rumah modular dan menjadi solusi pengelolaan lingkungan.

Menanggapi harapan Menteri Agus untuk meningkatkan pemberdayaan napi, Darmawan menyatakan PLN akan menyediakan bahan baku FABA secara gratis beserta pelatihan bagi narapidana. Program pengolahan sisa hasil PLTU ini telah berjalan selama dua tahun, namun belum mencapai produktivitas optimal untuk menekan biaya pembangunan rumah.

Kendala PLN sebelumnya adalah tingginya upah tenaga kerja. Dengan adanya tenaga kerja produktif dari penghuni lapas/rutan/bapas dan lahan yang tersedia, program ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi PLN.

Advertisement