Berita7 — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi incaran investor asing di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (7/7/2026). Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 274,79 miliar pada saham ini di pasar reguler.
Posisi net buy asing pada BBCA menjadi yang terbesar di antara saham lain pada hari itu, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net buy asing sebesar Rp 54,29 miliar. Secara berlawanan, transaksi jual bersih (net sell) asing terbesar tercatat pada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 178,5 miliar, disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan net sell asing Rp 106,8 miliar.
Secara agregat, investor asing membukukan net sell sebesar Rp 176,8 miliar di seluruh pasar pada hari tersebut. Dengan tambahan transaksi itu, total net sell asing sepanjang tahun berjalan tercatat mencapai Rp 74,7 triliun menurut data Bursa Efek Indonesia.
Valuasi BBCA Dinilai Murah, Target Harga Rp 9.480
Rumusan valuasi oleh KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA. Berdasarkan model Gordon Growth Model (GGM), rumah riset ini menetapkan target harga saham BBCA sebesar Rp 9.480.
Target itu setara dengan estimasi price to book value (P/B) 2026 sebesar 3,8 kali. Saat ini, BBCA diperdagangkan pada valuasi P/B 2026 sekitar 2,5 kali, yang menurut analisis rumah riset tersebut berada jauh di bawah rata-rata historis dan bahkan di bawah level minus dua standar deviasi (-2SD).
Target Dan Risiko Untuk BBRI
KB Valbury Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi buy untuk BBRI dengan target harga berbasis GGM sebesar Rp 4.010. Target harga ini setara dengan P/B 2026 sebesar 1,8 kali, sementara valuasi saat ini tercatat pada P/B 2026 sekitar 1,2 kali, sedikit di bawah level -2SD yang sebesar 1,5 kali.
Rumah riset menyebut beberapa potensi katalis positif bagi kinerja BBRI, antara lain pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari ekspektasi, penyesuaian imbal hasil kredit secara moderat yang dapat meningkatkan net interest margin (NIM), perbaikan kualitas aset yang menurunkan cost of credit (CoC), serta pendapatan non-bunga yang lebih kuat untuk mendorong pre-provision operating profit (PPOP).
Di sisi risiko, KB Valbury menyoroti kemungkinan pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi, serta kenaikan pencadangan yang signifikan. Sentimen domestik negatif dan tekanan pada nilai tukar rupiah juga disebut sebagai faktor yang dapat menekan sentimen pasar.
Ikuti Berita7
