Berita7 — Industri keuangan digital Indonesia memasuki fase baru yang menekankan dampak nyata terhadap ekonomi masyarakat dan pelaku usaha. Ambisi ini menjadi fokus utama dalam Indonesia Digital Banking Summit (IDBS) 2026 yang digelar di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) memanfaatkan forum tersebut untuk menggalang kolaborasi antara perbankan, pelaku fintech, dan regulator dengan tujuan mendukung penguatan sektor riil secara langsung.
Transformasi Dari Digitalisasi ke Dampak Ekonomi
Sekretaris Jenderal Aftech, Firlie Ganinduto, menyatakan IDBS 2026 yang memasuki tahun ketiga telah berkembang menjadi wadah kolaborasi yang menghasilkan keputusan konkret, bukan sekadar diskusi.
“Tahun ini kami mengangkat tema ‘Beyond Banking: Redesigning Finance for Wellbeing and Growth in the Real Economy’. Fokusnya bukan lagi sekadar digitalisasi layanan keuangan, tetapi bagaimana inovasi keuangan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan sektor riil,” ujar Firlie.
Partisipasi dan Isu Utama
Forum ini dihadiri oleh lebih dari 350 peserta, termasuk perwakilan perbankan, perusahaan fintech, regulator, dan pelaku usaha sektor riil. Berbagai isu penting dibahas, antara lain keamanan siber, pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI), serta penyaluran modal usaha yang produktif.
Hasil Survei Anggota
Seiring acara, Aftech meluncurkan Annual Member Survey (AMS) 2025-2026 yang diikuti 141 perusahaan anggota. Hasil survei menunjukkan pengerahan kemitraan yang meningkat, dengan sekitar 81 persen anggota telah menjalin kerja sama aktif.
Dalam jejaring kolaborasi tersebut, perbankan menjadi mitra strategis utama—lebih dari 60 persen responden memilih bank sebagai mitra utama. Adopsi teknologi juga tinggi, dengan pemanfaatan AI mencapai 84 persen dan sekitar 90 persen responden menerapkan kerangka governance, risk, dan compliance secara ketat.
Tantangan Pembiayaan UMKM
Meski mencatat kematangan industri, Ketua Dewan Pengawas Aftech, Arsjad Rasjid, mengakui kesenjangan kesiapan antar-segmen usaha. Salah satu kendala utama yang masih terjadi adalah akses pembiayaan modal usaha bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Hingga saat ini, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih kesulitan untuk mendapatkan akses pendanaan yang mudah dan terjangkau. Harapan kami semakin banyak kebijakan yang mendorong sinergi di lintas sektor sehingga industri keuangan nasional lebih tangguh dan mendorong enabler pertumbuhan ekonomi secara inklusif,” kata Arsjad.
Ikuti Berita7
